WcBma5LrLOg50X66kF3p5HaCfJ41Lo99JHjSF8cx
Bookmark

Pemikiran Ekonomi Teori Klasik Robert Malthus (1966-1834)

Pemikiran Ekonomi Teori Klasik Robert Malthus (1966-1834)

Thomas Maltus dianggap sebagai pemikir klasik yang sangat berjasa dalam pengembangan pemikiran-pemikiran ekonomi. Dia lahir di Surrey Inggris, 13 Februari 1766 – meninggal di Haileybury Hertford Inggris, 23 Desember 1834 pada umur 68 tahun.

Biasa dikenal sebagai Thomas Malthus dan lebih suka dipanggil "Robert Malthus", merupakan seorang pakar demografi Inggris dan ekonomi politik yang paling terkenal karena pandangannya yang pesimistik namun sangat berpengaruh tentang pertambahan penduduk.

Malthus dilahirkan dalam sebuah keluarga yang kaya. Ayahnya, Daniel, adalah sahabat pribadi filsuf dan skeptik David Hume dan kenalan dari JeanJacques Rousseau. Malthus dibaptis dengan nama Thomas Robert, tetapi dikenal sebagai Robert atau Bob oleh keluarga dan kawannya.

Sebagai putra bungsu dari delapan bersaudara, dia sangat akrab dengan persoalan kelebihan penduduk. Iman Kristennya menganjurkan keluarga besar dan pandangan umum saat itu adalah banyak anak banyak rejeki. Pada tahun 1784 Malthus masuk ke Universitas Cambridge, mengambil jurusan matematika dan bahasa (dia menguasai lima bahasa).

Setelah lulus pada tahun 1788 dia mengikuti Holy Order dan menjadi pendeta untuk Gereja Inggris, yang mengsyaratkan hidup selibat. Malthus meninggalkan statusnya sebagai pendeta setelah bekerja enam tahun, karena memutuskan utnuk menikah pada tahun 1804 pada usia 38 tahun dan dikaruniai tiga anak.

Pada tahun 1805, Malthus diangkat menjadi professor sejarah modern dan ekonomi politik di perguruan tinggi yang baru, East India College di Haileybury, yang didirikan untuk mendidik pegawai sipil di East India Company.

Jadi Malthus memegang jabatan puncak di jurusan ilmu ekonomi sampai akhir hayatnya pada tahun 1834. Sewaktu ia diangkat sebagai dosen pada East India College, untuk pertama kalinya ekonomi politik (political ekonomic) diakui sebagai disiplin ekonomi sendiri.

Di salah satu bukunya yaitu yang berjudul “An Essay on the Principle of Population” terdapat pikiran yang tidak sejalan dengan Smith. Dimana Smith optimis akan kehidupan manusia, akan tetapi Malthus pesimis dengan hal tersebut.

Penyebab pesimisme Malthus adalah dari faktor tanah karena tanah merupakan salah satu faktor produksi yang tetap jumlahnya. Malthus juga mengamati perkembangan manusia. Perkembangan manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan produksi hasil-hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Manusia berkembang sesuai dengan deret ukur (geometric progression, dari 2 ke 4, 8, 16, 32 dan seterusnya), sedangkan pertumbuhan produksi makanan hanya meningkat sesuai dengan deret hitung (aritmetik progession dari 1 ke 2, utopia merupakan 3, 4, 5 dan seterusnya).

Karena perkembangan jumlah manusia jauh lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan hasil-hasil pertanian, maka Malthus meramalkan bahwa suatu ketika akan terdasi mala petaka (disaster) yang akan menimpa umat manusia.

Berbagai masalah dalam masyarakat akan timbul sebagai akibat adanya tekanan penduduk tersebut, yang pada gilirannya menyebabkan tekanan berkelanjutan terhadap standar hidup manusia, baik dalam artian ruang maupun output.

Anehnya dalam menghadapi masalah orang selalu menyatakan keadaan dan lingkungan, akan tetapi tidak pernah menyalahkan diri sendiri. Apa yang bisa dilakukan manusia agar terhindar dari berbagai persoalan ekonomi dan masyarakat?

Dalam Essays on the Principles of Population (1796) Malthus menguraikan bahwa :

  1. Jumlah penduduk akan selalu bertambah dengan bertambahnya jumlah alat pemuas kebutuhan.
  2. Jumlah penduduk dapat dihambat /tidaknya alat-alat pemuas kebutuhan.

Perkembangan jumlah penduduk dapat dihambat dengan dua macam chek antara lain (Karim, 2017):

  1. Salah satu cara untuk menghindar dari malapetaka tersebut adalah dengan melakukan control/ chek atau pengawasan terhadap pertumbuhan jumlah penduduk disebut preventif chek, antara lain dengan keluarga Berencana (KB) menurut istilah yang dipakai di Indonesia, penundaan usia perkawinan (postponement married), pengekangan moral/ moral restraint.
  2. Positif Chek adalah pencegahan pertumbuhan penduduk dengan cara bencana alam, kelaparan, wabah penyakit, malapetaka perang (pernyataan Malthus ini menimbulkan hal yang bersifat pesimis). Dari pernyataan Malthus diatas menyatakan bahwa, dalam kenyataanya produktifitas tenaga kerja meningkat dari tahun ke tahun.

Teori–teori yang dikemukakan Malthus lama kelamaan menimbulkan hal yang bersifat controversial dalam kehidupan selanjutnya. Sehingga banyak ekonom yang mengkritik pendapat Malthus tersebut. Kritik terhadap teori Malthus antara lain (Skousen, 2017) :

  1. Perbandingan antara kenaikan jumlah penduduk dengan kenaikan jumlah alat-alat pemuas kebutuhan seperti apa yang dikemukakan oleh Malthus adalah bersifat hipotetis (tidak nyata). Kenyataan-kenyataan terakhir ini menunjukan kenyataan yang sebaliknya.
  2. Malthus mengabaikan bahwa manusia (perempuan) hidup tidak hanya menghasilkan keturunan saja tetapi juga berkarier.
  3. Malthus mengabaikan perkembangan teknologi yaitu teknologi dalam bidang pertanian dan kesehatan.
  4. Teori Malthus bersifat hipotesis semata.
  5. Pendapat Malthus bersifat oversimplification.

Post a Comment

Post a Comment