WcBma5LrLOg50X66kF3p5HaCfJ41Lo99JHjSF8cx
Bookmark

Konsep Pemikiran Ekonomi Tentang Mazhab Cambridge

Konsep Pemikiran Ekonomi Tentang Mazhab Cambridge

Alfred Marshall dianggap sebagai pelopor aliran atau mazhab Cambridge di Inggris. Pada tahun 1868 Marshall diangkat sebagai tenaga pengajar dalam bidang moral di Cambridge dan pada saat yang sama ia mulai mempelajari ilmu ekonomi.

Dari beberapa buku yang pernah ia tulis, buku yang dianggap paling berpengaruh adalah Principles of Economics. Marshall dianggap sangat berjasa dalam memperbarui asas dan pandangan-pandangan ekonomi yang dikemukakan pakar klasik dan pakar Neo-Klasik sebelumnya.

Menurut kaum klasik, harga barang ditentukan oleh besarnya pengorbanan untuk menghasilkan barang tersebut. Dengan demikian bagi kaum klasik yang menentukan harga adalah sisi penawaran. Pendapat klasik tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh Neo-Klasik seperti : Jevons, Menger, dan Walras.

Mereka sepakat bahwa yang menentukan harga adalah kondisi permintaan, karena mereka telah mengembangkan analisis yang sifatnya revolusioner tentang faktor-faktor yang menentukan harga-harga relatif.

Ketiga tokoh tersebut tidak setuju dengan teori nilai biaya produksi (cost of production theory of value) dari kaum klasik, sebab teori ini dinilai tidak berlaku secara umum mereka secara tegas juga mengkritik teori nilai upah buruh atau (labor theory of value) Ricardo serta teori biaya produksi dari Say dan Mill. 

Teori biaya produksi yang ditentang itu mengatakan bahwa harga barang ditentukan oleh biaya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu barang (Karim, 2017). Pakar- pakar Neo-Klasik (Jevons, Menger, dan Walras) justru mengkritik pakar-pakar klasik (Adam Smith) yang gagal dalam membedakan antara utilitas total, utilitas marginal, dan utilitas rata-rata.

Kalum klasik (Adam Smith) mengatakan bahwa nilai suatu intan kurang bermanfaat bagi manusia walaupun memiliki nilai yang sangat tinggi, sedangkan menurut pandangan kaum Neo-Klasik (Jevons, Menger, dan Walras) nilai atau harga intan lebih tinggi bukan karena biaya untuk mendapatkannya melainkan karena utilitas marginal yang lebih besar (utilitas dari pengkonsumsian satu unit intan terakhir yang besar).

Karena itu orang mau menghargai intan yang lebih tinggi. Jadi dapat dilihat bahwasanya kaum klasik melihat harganya dari sisi produsen (dari jumlah pengorbanan yang dikeluarkan) sedangkan kaum marginalitas melihatnya dari sisi konsumen yaitu dari kepuasan marginal pengkonsumsian satu unit terakhir.

Namun dalam hal ini Marshall tidak menyalahkan kedua konsep diatas melainkan menggabungkannya, menurut beliau selain oleh biaya-biaya, harga juga dipengaruhi oleh unsur subjektif lainnya, baik dari pihak konsumen maupun dari pihak produsen.

Lebih jelas lagi, bagi Marshall harga terbentuk sebagai integrasi dua kekuatan dipasar: penawaran dari pihak produsen.

Deliarnov (2016), karya-karya Marshall diakui sebagai seorang pakar ekonomi yag sangat ulung, dan kelebihan lain yang dimiliki oleh Marshall yaitu Beliau sangat memperhatikan nasib kaum papa, bagi Beliau ilmu ekonomi adalah sebagai alat dan sarana untuk memperbaiki kesejahteraan umat manusia. Ilmu ekonomi sebagai daya untuk menemukan kebenaran.

Selanjutnya kebenaran tersebut menurut Marshall haruslah ditujukan pada penyebab dan obat dari kemiskinan dan kememlaratan.

Pigou adalah murid Mashall yang mengantikannya sebagai ketua jurusan ekonomi politik pada tahun 1908, Pigou adalah orang pertama yang menemukakan konsep Real Balance Effect yang kemudian lebih dikenal dengan dampak Pigou yang merupakan suatu stimulus kesempatan kerja yang disebabkan oleh meningkatnya nilai riil dan kekayaan liquit sebagai konsekwensi dari turunya harga-harga, jika nilai kekayaan riil naik, yang berdampak pada peningkatan pendapatan dan terbukanya kesempatan kerja baru.

Pandangan ini merupakan salah satu dasar mengapa kaum klasik dan neoklasik percaya bahwa keseimbangan kesempatan kerja penuh dapat dicapai sebagai hasil penurunan dalam tingkat upah. 

Karya Pigou tentang teori moneter kesempatan kerja dan pendapatan nasional yang mengikuti tradisi klasik telah membawanya pada kontrofersi dengan Keyness walaupun mereka sering berdebat, Pigou dan Keyness beserta Joan Robinson banyak memperbaiki konsep Marshall terutama dalam segi permintaan.

Post a Comment

Post a Comment