WcBma5LrLOg50X66kF3p5HaCfJ41Lo99JHjSF8cx
Bookmark

Konsep Tentang Perilaku Pengusaha

Konsep Tentang Perilaku Pengusaha

Dalam bukunya yang lain: The Theory of Business Enterprise, Veblen lebih jauh menjelaskan kemiripan perilaku pengusaha Amerika dengan perilaku konsumsi yang diceritakan di atas. Veblen dalam hal ini juga melihat bahwa perilaku para pengusaha Amerika di masanya telah banyak mengalami perubahan.

Dahulu para pengusaha pada umumnya menghasilkan barang-barang dan jasa untuk memperoleh keuntungan melalui kerja keras. Investasi masuk ke dalam apa yang disebutnya production for use.

Tetapi pada masa sekarang laba dan keuntungan sebagian tidak lagi diperoleh melalui kerja keras dengan menciptakan barang-barang yang disukai konsumen, tetapi lewat “trik-trik bisnis”.

Produksi seperti ini disebutnya production for profit. Lebih jauh dari itu, Karim (2017) Veblen melihat bahwa pada masa sekarang semakin banyak dijumpai jenis pengusaha pemangsa (predator), yaitu para pengusaha yang mempenoleh keuntungan melalui berbagai cara tanpa mempedulikan nasib orang lain, termasuk para pegawai dan karyawan yang bekerja di perusahaan yang dimilikinya.

Apalagi terhadap nasib para konsumen yang membeli produk-produknya, tidak ada perhatian kepada mereka sama sekali. Veblen melihat dalam masyarakat Amerika yang tumbuh begitu pesat telah melahirkan suatu golongan yang disebutnya absentee ownership.

Yang dimaksudkannya dengan golongan absentee ownership tersebut adalah para pengusaha yang memiliki modal besar dan menguasai sejumlah perusahaan, tetapi tidak ikut terjun langsung dalam kegiatan operasional perusahaan.

Kegiatan operasional cukup diserahkan pada para professional dari karyawan kepercayaannya. Tetapi, walau ia tidak ikut dalam kegiatan operasional, dalam kenyataan ia memperoleh keuntungan paling besar.

Untuk lebih jelas Veblen membedakan contoh tentang pengusaha yang bergerak dalam bidang perkereta-apian, yang mendapat keuntungan sangat besar waktu Amerika melaksanakan pembukaan kawasan dari pantai Timur hingga pantai Barat.

Yang merancang dan melaksanakan pembuatan jaringan kereta api adalah tenaga-tenaga pelaksana profesional yang diupah. Sedang sang pengusaha sebagai pemilik modal hanya ongkang-ongkang kaki saja. Begitupun, ia yang memetik keuntungan paling besar.

Para pengusaha kereta api yang seperti ini oleh Veblen diberi gelar bangsawan kereta api (railroad barons), sebab perilaku mereka agak mirip dengan kaum bangsawan pemilik daerah-daerah pertanian di Eropa abad pentengahan.

Mereka sama-sama tidak mengerahkan pikiran dan energi dalam kegiatan operasional, tetapi memperoleh bagian keuntungan paling besar.

Veblen labih jauh melihat bahwa para pengusaha yang hanya mementingkan laba tanpa memperhatikan cara ini biasanya melakukan kongkalingkong dengan penguasa sehingga mendapat berbagai kemudahan dan hak-hak istimewa, misalnya dalam menguasai bahan-bahan mentah dan menguasai daerah-daerah pemasaran (Djojohadikusumo, 1991).

Ia biasanya juga mampu mengatur pejabat kehakiman untuk tidak mempersoalkan kedudukan monopolinya, atau tidak menggubris manipulasi pajak dan keuangan yang dilakukannya.

Di beberapa negara berkembang yang masih belum punya aturan penmainan atau rule of law yang jelas bahkan sering dijumpai adanya kerja sama antara pengusaha dengan militer demi mengamankan bisnis monopolinya.

Artinya, kalau ada pengusaha lain yang ikut dalam bisnis yang dimonopolinya, ia berurusan dengan militer. Si penangkap biasanya diberi hadiah atau promosi naik pangkat. Hal ini mudah diatur, sebab sang pengusaha biasanya dekat atau memang anak atau famili dan si pengusaha itu sendiri.

Untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya, ada pengusaha absentee ownership tidak segan-segan mematikan usaha pengusaha sungguhan yang memperoleh keuntungan lewat kerja keras. Salah satu cara untuk itu ialah dengan melakukan akuisasi.

Djojokusumo (1991), cara lain untuk mematikan pesaing lain ialah dengan membanting harga, sehingga produk-produk dan perusahaanperusahaan pesaing tersebut tidak laku. Setelah pesaing mati dan keluar dari pasar biasanya mereka kembali menaikkan harga dan memperoleh laba sangat besar (excessive profit).

Dengan monopoly power yang ada di tangan mereka juga sering mengurangi pasok (supply) barangbarang, sehingga harga melambung, dan lagi-lagi menerima keuntungan melebihi kewajaran. 

Dengan singkat, uang atau modal di tangan pengusaha pemangsa lebih sebagai alat pengeksploitasi keuntungan sebesar-besarnya dari pada sebagai asset yang dikelola dengan efisien untuk memuaskan kebutuhan konsumen sebagaimana yang terjadi dalam perusahaan sungguhan.

Dari uraian di atas tidak heran kalau Veblen menolak keras tesis kaum klasik yang menganggap bahwa usaha tiap orang yang mengejar kepentingannya masing-masing pada akhirnya akan melahirkan suatu harmoni dan keseimbangan dalam masyarakat secara keseluruhan sebab dari gejala-gejala yang diamatinya, ia melihat bahwa perilaku pengusaha yang hanya mengejar kepentingan pribadi sangat bertolakbelakang dengan tujuan masyarakat secara keseluruhan.

Sebaliknya demi mengejar kepentingan pribadi ada pengusaha yang tidak segan-segan menghambat dan mematikan kepentingan orang banyak.

Post a Comment

Post a Comment