Selama dasawarsa 30 berlangsung, depresi ekonomi menjadi ganas dan berkepanjangan. Justru dalam keadaan demikian ternyata pemikiran-pemikiran sebelumnya, seperti mazhab klasik dan neo-klasik, tidak berdaya untuk memberi jawaban atas masalah-masalah penting yang sedang dialami dalam ekonomi masyarakat sebagai keseluruhan (Deliarnov, 2016).
Hal ini berkaitan erat dengan pola pendekatan dalam alur pikiran kedua mazhab itu yang bersifat mikro terhadap berbagai permasalahan khusus, dimana tidak dapat terwujud kepaduan utuh dalam suatu sistem pemikiran dan kerangka analisis yang mencakup proses perekonomian secara menyeluruh.
Sejak terjadinya depresi besaran-besaran tersebut, orang curiga bahwa ada sesuatu yang salah dengan teori klasik dan neo-klasik yang dianggap berlaku umum selama ini.
Dalam menghadapi persoalan ekonomi yang maha dahsyat (terjadi krisis dan sistem kapitalis jatuh), teoriteori ekonomi yang dikembangkan oleh pakar-pakar klasik maupun neo-klasik tidak mampu menjelaskan fenomena dan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.
Dalam situasi tidak menentu inilah lahir seorang tokoh ekonomi yang kemudian menjadi sangat berpengaruh, yaitu John Maynard Keynes (1883-1946). Karya tulis atau buku Keynes yang paling populer adalah The General Theory of Employment, Interest, and Money.
Buku ini ditulis sebagai reaksi terhadap depresi besar-besaran yang terjadi tahun 1930-an yang tidak berhasil dipecahkan dengan metode klasik dan neo-klasik (Deliarnov, 2016). Teori klasik dinilai Keynes mengandung banyak kelemahan, sehingga perlu diperbaiki dan disempurnakan, seperti masalah mekanisme pasar, keseimbangan pasar, ketenagakerjaan, analisis biaya, tabungan dan investasi, juga kritikan yang habis-habisan oleh Keynes terhadap tokoh klasik, J. B. Say tentang teorinya “Supply creates its own demand”.
Sedangkan terhadap teori-teori neo-klasik, Keynes tidak terlalu banyak menemukan banyak kelemahan, akan tetapi Keynes tetap melakukan hal yang sama seperti pada klasik, yaitu melakukan penyempurnaan teori agar lebih sesuai dengan kondisi ekonomi saat sekarang (pada saat itu-red).
Juga dikarenakan Keynes merupakan salah satu murid brilliannya Marshall, yang notabenenya merupakan kaum neo-klasik. Sehingga sudah pasti karya-karya Marshall banyak diakui oleh Keynes. Mungkin hampir sebagian besar konsep-konsep Marshall diperbaiki dan disempurnakan oleh Keynes.
Hal ini menunjukkan adanya peranan Keynes dalam menjelaskan secara lebih lanjut dan lebih disempurnakan ide dan konsep yang telah ada, yang dipunyai oleh tokoh mazhab neo-klasik.
A. Karya - Karya Keynes
Keynes, tahun 1913 menulis: Indian Currency and Finance, yang memperlihatkan ketertarikannya pada masalah moneter. Tulisan berikutnya tahun 1919 adalah: The Economic Consequences of the Peace. Pada tahun 1922 ia menulis: A Revision of the Treaty.
Kedua buku tersebut berdasarkan pengalamannya dalam delegasi perdamaian Versailles (perdamaian untuk mengakhiri Perang Dunia I). Karim (2017), dalam buku The Economic Consequences of the Peace, Keynes mengkritik cara yang digunakan pihak pemenang PD I (Amerika, Inggris dan Prancis) untuk menekan negara yang kalah (Jerman) dengan mensyaratkan pembayaran hutang perang yang berat.
Keynes meramalkan bahwa tindakan tersebut akan menciptakan kemarahan dan dendam dari negara Jerman. Ramalan itu terbukti dengan diprakarsainya PD II oleh Jerman sebagai wujud balas dendam. Tahun berikutnya ia menulis: A Tract on Monetary Reform, yang berisi keprihatinannya terhadap perubahan daya beli uang.
Tulisannya yang lain adalah A Treatise of Money (Risalah Uang) yang terbit tahun 1930. Buku ini terbit dalam dua volume, volume pertama menyajikan tantang arti dan peran uang dalam perekonoian murni sedangkan volume kedua membahas penerapannya dalam perekonomian (Karim, 2017).
Pada tahun 1936, Keynes menerbitkan bukunya yang paling terkenal: The General Theory of Employment, Interest, and Money. Dalam bukunya itu diungkapkan bahwa penghasilan dan peluang/lowongan kerja itu ditentukan oleh jumlah pengeluaran swasta dan negara.
Pendapat ini dinilai para ahli ekonomi dunia sebagai suatu penyimpangan dan tradisi Neo-Klasik dan akhirnya menciptakan mazhab baru, mazhab ekonomi modern yang biasa dikenal dengan sebutan mazbab Keynes.
Selain buku-bukunya itu, Keynes juga menerbitklan buku hasil pemikirannya berjudul: How to Pay for the War. Dalam bukunya itu Keynes mengutarakan suatu cara untuk menghindari terjadinya inflasi pada zaman perang yakni dengan jalan tabungan paksa atau tabungan penangguhan (Karim, 2017).
Ini semua membuat Keynes menjadi terkenal sebagai salah satu tokoh ekonomi dunia. Sampai saat ini, teori–teori sampai buku–bukunya masih dipakai sebagai referensi oleh seluruh masyarakat dunia yang ingin mengetehui perkembangan ekonomi dari mulai zaman dahulu sampai sekarang karena hal ini sangat penting bagi kita yang ingin mengetahui bagaimana sejarah dan perkembangan ekonomi.
Djojohadikusumo (1991) pada hakikatnya, konsep teori Keynes dapat dipandang sebagai suatu teori tentang pendapatan dan kesempatan kerja. Inti pokok dalam sistem pemikiran dan konsep Keynes terdiri dari tiga faktor penting, yaitu:
1. Hasrat berkonsumsi (propensity to consume)
Pendapatan total agregat sama dengan konsumsi total agregat ditambah investasi total agregat. Tingkat konsumsi bergantung pada hasrat seseorang untuk berkonsumsi, yang merupakan fungsi dari pendapatan. Begitu juga dengan tabungan, karena tabungan adalah sisa bagian dari pendapatan yang tidak digunakan untuk berkonsumsi.
2. Tingkat bunga (interest) yang memiliki kaitan dengan dengan preferensi likuiditas (liquidity preference)
Tingkat bunga menurut Keynes bukanlah pencerminan dari penawaran tabungan dan permintaan investasi, melainkan tingkat bunga merupakan variabel bebas (independent) dari kedua hal tersebut.
Tingkat tabungan adalah suatu fenomena moneter yang tergantung dari keinginan orang menahan tabungannya dalam bentuk dana likuiditas. Sehingga tingkat bunga tergantung dari preferensi likuiditas.
3. Efisiensi marginal dari investasi modal (marginal efficiency of capital)
Tingkat investasi ditentukan oleh efisiensi marginal dari investasi modal, yang dipengaruhi oleh ekspektasi investor tentang laba yang akan diperoleh di masa depan dari investasi modal yang bersangkutan. Jelaslah bahwa ekspektasi tersebut adalah yang positif dan menguntungkan investor itu.
4. Preferensi Likuiditas (Liquidity Preference)
Pada saat masa aliran monetarisme, timbul pertanyaan mengenai demand for money dan supply of money. Pertanyaan ini dijawab oleh Keynes dengan teorinya, liqudity preference, yang menjelaskan tentang bagaimana tingkat bunga ditentukan dalam jangka pendek dan tingkat bunga tersebut disesuaikan untuk menyeimbangkan demand for money dan supply of money.
Teori ini menegaskan bahwa tingkat bunga adalah salah satu determinan dari berapa banyak uang yang ingin dipegang orang, alasannya karena tingkat bunga merupakan opportunity cost dari memegang uang. Ada tiga motif orang yang memegang uang: Motif transaksi, motif berjagajaga, dan motif spekulasi.
5. Tentang Upah
Kaum klasik mengatakan bahwa pengangguran tinggi karena upah yang kaku (wage rigidity), yang disebababkan oleh adanya aturan upah minimum (minimum wage), kontrak kerja, dan serikat pekerja (labor union).
Keynes menolak semua pendapat klasik yang di atas. Keynes berpendapat bahwa upah nominal lah yang mengikat pekerja dan menyebabkan pengangguran. Sehingga untuk menurunkan pengangguran, solusinya adalah menurunkan upah riil dengan cara menurunkan upah nominal lebih besar dari tingkat inflasi.
6. Tentang Tabungan (Saving)
Menurut Keynes, tingkat saving harus lebih tinggi dari plan investmen. Tapi juga tidak baik kalau tingkat saving-nya itu berlebihan, karena akan berdampak pada terjadinya resesi perekonomian bahkan terjadi depresi.
B. Kritikan Keynes Terhadap Teori Klasik
Kaum klasik percaya bahwa perekonomian yang dilandaskan pada mekanisme pasar akan selalu mencapai keseimbangan, sehingga kegiatan produksi akan otomatis menciptakan daya beli terhadap produk yang dihasilkan.
Daya beli itu diperoleh atas balas jasa untuk faktor-faktor produksi seperti upah, gaji, suku bunga, sewa dan balas jasa atas faktor produksi lainnya. Pendapatan yang diperoleh akan seluruhnya dibelanjakan. Dalam posisi keseimbangan tidak terjadi kelebihan maupun kekurangan permintaan.
Walaupun terjadi hanya bersifat sementara karena akan ada tangan tak kentara yang akan membawa perekonomian kembali pada posisi keseimbangan. Semua tenaga kerja terserap secara penuh (fully employed).
Kalau ada yang tidak bekerja, mereka akan menerima pekerjaan walau dengan gaji kecil dari pada mereka menganggur dan tidak memperoleh pendapatan. Hal ini mendorong perusahaan mempekerjakan mereka lebih banyak.
Teori J.B Say yang menekankan bahwa setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri dikritik oleh Keynes sebagai sesuatu yang keliru (Karim, 2017). Dalam kenyataan biasanya permintaan lebih kecil dari penawaran dan tidak semua pendapatan masyarakat itu dibelanjakan tapi juga ditabung.
Hal ini berarti jumlah konsusmsi lebih kecil dari pendapatan dimana tidak semua produksi diserap masyarakat. Terbukti pada tahun 1929-1930 saat terjadi kelebihan produksi dalam jumlah besar sedangkan daya beli masyarakat terbatas.
Hal ini menyebabkan banyak perusahan terpaksa mengurangi produksi dan melakukan rasionalisasi, yaitu mengurangi produksi dengan mengurangi jumlah pekerja. Hal ini menyebabkan tingkat pengangguran dalam jumlah besar dan penurunan pendapatan masyarakat secara drastis.
Puncaknya kemerosotan ekonomi terjadi pada tahun 30-an dimana hampir diseluruh negara-negara industri mengalami depresi secara besar-besaran. Hal ini menyebabkan orang curiga bahwa ada yang salah dengan teori klasik dan neo-klasik.
Menurut Keynes, teori Say hanya berlaku untuk perekonomian tertutup sederhana yang terdiri dari sektor rumah tangga dan perusahaan saja. Namun untuk perekonomian masyarakat maju yang telah mengenal tabungan maka sebagian pendapatan akan ditabung yang berarti arus pengeluaran tidak sama dengan pendapatan (Karim, 2017).
Pendapat Keynes tersebut dibantah oleh kaum klasik dengan dalih bahwa tabungan tersebut akan dihimpun oleh lembaga keuangan dan akan disalurkan pada investor sehingga tabungan akan selalu sama dengan investasi.
Dengan demikian investasi akan menyebabkan keseimbangan kembali terwujud. Keynes membantah pandangan klasik tersebut karena motif orang menabung tidak sama dengan motif orang berinvestasi.
Pengusaha berinvestasi dengan motif memperoleh keuntungan sedangkan rumah tangga menabung dengan motif beragam salah satunya untuk berjaga-jaga, misalnya untuk menghadapi kecelakaan. Perbedaan motif ini menyebabkan jumlah tabungan tidak sama dengan jumlah investasi.
Kalaupun jumlahnya sama itu hanya kebetulan bukannya keharusan. Keynes juga mengkritik pandangan kaum klasik yang mengatakan full employment akan selalu tercapai. Dalam kenyataannya pasar tenaga kerja tidak selamanya tercapai full employment (Deliarnov, 2016).
Dimanapun para pekerja mempunyai serikat kerja yang selalu memperjuangkan kepentingan buruh dari penurunan tingkat upah. Yang berarti tidak semua buruh akan bersedia bekerja pada tingkat upah yang ditawarkan perusahaan.
Bila tingkat upah diturunkan maka pendapatan masyarakat akan turun sehingga daya beli dan konsumsi terhadap produk yang dihasilkan berkurang. Akhirnya akan mendorong turunnya harga-harga. Kalau harga-harga turun, maka produktifitas tenaga kerja juga menurun.
Hal ini akan menyababkan perusahaan melakukan raionalisasi untuk menghemat biaya produksi dengan memberhentikan sebagian karyawan. Maka pengangguran tingkat akan semakin besar (tidak terjadi full employment).



Post a Comment