WcBma5LrLOg50X66kF3p5HaCfJ41Lo99JHjSF8cx
Bookmark

Pemikiran Ekonomi Sosialisme Sebelum Marx

Pemikiran Ekonomi Sosialisme Sebelum Marx

Sebelum munculnya sistem ekonomi Sosialisme, Dunia Barat telah menggunakan sistem ekonomi Kapitalis. Tokoh pemikir ekonomi Kapitalis, seperti Robert Malthus, David Ricardo, J.B Say, dan J.S Mill. Mereka dimotori oleh Adam Smith yang tergabung dalam mahzab klasik.

Pemikiran mereka lebih berorientasi kepada sistem Kapitalis. Sistem ini menimbulkan banyak kontroversi, karena pada prakteknya kaum bangsawan yang lebih diuntungkan. Kaum bangsawan menguasai Negara dan mereka jadikan sebagai kekuatan dan alat paksa untuk mengatur organisasi ekonomi politik dan kemasyarakatan demi memenuhi berbagai kepentingan mereka.

Kepemilikan akan modal yang besar membuat kaum bangsawan bertindak semaunya. Hal ini mendapat tentangan dari kaum buruh, yang hidupnya semakin tertindas. William Blake (1775-1827) dalam Daliarnov (2016), menggambarkan bahwa Kapitalisme telah merusak keadaan Inggris yang semula damai, kemudian membawa masyarakat ke arah hidup penuh persaingan dan perkelahian.

Berangkat dari kenyataan dimana Kapitalisme tidak membawa keadilan bagi masyarakat dan hanya menguntungkan segelintir orang (kaum bangsawan) saja. Maka muncullah pemikiran baru yang lebih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat berdasar azas keadilan dalam perekonomian.

Ajaran ini dikenal dengan aliran Sosialis. Aliran sebelum Marx sering dimasukkan kedalam Sosialis, karena pemikirannya yang lebih bersifat utopis (dalam angan-angan) walau ada beberapa tokoh aliran ini yang berusaha untuk mewujudkannya menjadi sebuah kenyataan dengan membentuk komunitas-kounitas bersama.

Akan tetapi, sebelum membahas tentang pandangan dan pemikiran kedua kelompok Sosialisme sebelum Marx (Sosialisme Utopis dan Sosialisme Komunitas Bersama), ada baiknya telebih dahulu dipahami pengertian atau definisi Sosialisme itu sendiri.

A. Pengertian Sosialisme/Komunisme

Istilah Sosialisme mengandung banyak arti. Selain sistem ekonomi, juga menunjukkan aliran falsafah, ideologi, cita-cita, ajaran-ajaran atau gerakan. Menurut J.S. Mill, secara sempit Sosialisme ialah kegiatan menolong orang-orang yang tak beruntung dan tertindas.

Secara luas, Sosialisme diartikan sebagai bentuk perekonomian yang pemerintahannya paling kurang bertindak sebagai pihak yang dipercayai oleh seluruh warga masyarakat untuk mengelola perekonomian, termasuk kewenangan untuk menguasai unit produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan menghilangkan kepemilikan oleh swasta (Deliarno, 2016).

Jadi, sistem ini mengharuskan akan adanya kepemilikan secara kolektif terhadap sumber-sumber produksi. Negara eks Soviet dan Inggris yang dikuasai oleh partai buruh- dapat dimasukkan ke dalam sistem sosialis.

Bagaimana dengan Komunisme? Karena istilah Sosialisme sering muncul bersamaan dengan Komunisme. Pada dasarnya istilah Komunisme dan Sosialisme tidak banyak perbedaannya, bahkan Marx menggunakannya secara bergantian.

Kata “Komunisme” secara historis sering digunakan untuk menggambarkan sistem-sistem sosial dimana barang-barang dimiliki secara bersama-sama dan didistribusikan untuk kepentingan bersama sesuai dengan kebutuhan masing-masing anggota masyarakat.

Produksi dan konsumsi bersama berdasarkan kapasitas ini merupakan hal pokok dalam mendefinisikan paham Komunis, sesuai motif mereka yaitu “from each according to his abilities, to each according to his needs” (dari setiap orang sesuai kemampuan, untuk setiap orang sesuai kebutuhan).

Dalam masyarakat Sosialis yang menonjol adalah rasa kebersamaan atau kolektivisme (collectivism), dan salah satu bentuk kolektivisme adalah Komunisme, dimana keputusan-keputusan ekonomi disusun, direncanakan, dan dikontrol oleh kekuatan pusat.

Komunisme dapat dikatakan sebagai bentuk sistem paling ekstrem diantara golongan kiri Sosialis, sebab untuk mencapai masyarakat Komunis yang dicita-citakan diperoleh melalui suatu revolusi. Perekonomian yang didasarkan atas sistem, dimana segala sesuatunya serba dikomando ini sering juga disebut sistem “perekonomian komando”.

Karena dalam sistem Komunis negara merupakan penguasa mutlak, perekonomian Komunis juga sering disebut “sistem ekonomi totaliter”. Istilah lain yang juga sering digunakan adalah “anarkisme”, merujuk pada suatu kondisi sosial dimana pemerintah tidak main paksa dalam menjalankan kebijaksanaankebijaksanaannya, melainkan dipercayakan pada asosiasi-asosiasi individu secara bebas dalam sistem sosial kemasyarakatan yang ada.

Aliran Sosialisme sebelum Marx (yang lebih bersifat utopis sering dimasukkan ke dalam “Sosialis”, sedangkan Sosialisme yang dikembangkan Marx digolongkan ke dalam “Komunis”). Cara lain menamakan Sosialisme Marx adalah “marxisme”.

Disebut “Marxisme” karena jasa Marx sangat besar dalam mengembangkan dan mempopulerkan aliran Sosialis-Komunis ini (Karim,2017).

Paham Marxisme ini kemudian mengalami perkembangan, dan jenisjenis Marxisme juga bervariasi, mulai dari Marxisme Ortodoks, Neo-Marxis, Human-Marxis, aliran Kiri Baru (New Left), Sosialis Independen dan sebagainya.

Tetapi, walau demikian pengertian tentang Sosialisme semakin beragam dan bervariasi, dapat dikatakan bahwa pandangan dari tiap-tiap aliran didasarkan pada ajaran Marx dan Engels.

Semua aliran Marxisme tersebut pada intinya sama-sama melihat, mempertanyakan dan membahas mengapa dan bagaimana pola produksi Kapitalis telah mengubah formasi sosial-ekonomi masyarakat prakapitalis; mengapa yang terjadi justru proses pemiskinan (pauperization), proses penyengsaraan (immiserization), keadaan keterbelakangan (underdevelopment) serta makin banyak dan berkembangnya jumlah “tentara cadangan industri” (industrial reserve army) dan bukannya proses pembangunan (development) atau kemajuan (proggress).

B. Konsep Tentang Sosialisme Utopis

Tokoh Sosialis Utopis adalah Sir Thomas More (1478- 1535). Istilah Sosialis Utopis berasal dari buku “Utopia”, dimana More memimpikan suatu negara impian, yang mana semua milik merupakan milik bersama.

Semua orang tinggal dalam suatu tempat bersama. Makanan serta segala kebutuhan lainnya disediakan secara bersama-sama pula. Orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhannya saja, dan menanamkan Toleransi hidup (Deliarnov, 2016). 

Untuk menghasilkan barang-barang dan jasa, semua orang harus bekerja. Tetapi karena masyarakat dianjurkan untuk hidup sederhana, orang tidak perlu bekerja mati-matian dalam waktu terlalu lama, melainkan cukup sekedar dapat memenuhi kebutuhan dengan bekerja sekitar enam jam tiap hari.

Dalam hidup penuh kebersamaan ini uang tidak perlukan, dan pakaian semua orang seragam. Sehingga demikian tidak perlu mengikuti mode. Lebih ekstrem lagi, bahkan perhiasan emas dan perak tidak dihargai.

Pemerintahan dijalankan secara “Demokratis”, dimana pimpinan untuk seumur hidup adalah merupakan hasil pemilihan rakyat. Dari gambarannya tentang negara Utopia sebagaimana dijelaskan di atas, tidak sulit ditebak bahwa Thomas More juga dapat digolongkan sebagai penganut Sosialisme/Komunisme. 

Tetapi jika ditelusuri dari latar belakang penulisan buku, apa yang dimaksudkan More sesungguhnya adalah menyindir kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di Inggris pada abad ke-16, dimana perbandingan antara yang kaya dengan yang miskin sangat menyolok dan kaum buruh bekerja sangat keras dalam waktu terlalu lama sehingga tidak ada kemungkinan atau kesempatan bagi mereka untuk meningkatkan pendidikan, dan melakukan kegiatankegiatan sosial lainnya.

Tulisan lain yang senada dengan More, antara lain dapat dilihat dari karangan: Tomasso Campanella (1568-1639) berjudul Civitas Solis; Francis Bacon (1560-1626) berjudul New Atlantis; dan James Harrington (1611-1677) dengan judul Oceana.

Para pemikir-pemikir ini mempunyai kesamaan pandangan akan suatu negara impian dimana Sosialisme menjiwai perekonomiannya. Dan akhirnya angan-angan tetaplah angan-angan yang akan selalu berada di alam bawah sadar manusia.

Buku-buku yang bersifat Utopia itu akan mempengaruhi pemikir Sosialis lainnya. Salah satunya adalah pandangan Comtede Sain Simon (1760-1825), melalui bukunya yang berjudul New Atlatis (Deliarnov, 2016).

Saint Simon merupakan seorang bangsawan pra-revolusi Prancis yang dipandang sebagai salah seorang pemikir ulung Sosialis. Ia merasa bahwa sistem produksi dalam suatu organisasi sosial sangat penting artinya. Pada waktu itu, sistem produksi sangat dikuasai oleh Kaum Feodal, dan berjalan tanpa kontrol. 

Sehingga Saint berpendapat, agar sistem produksi ini bisa memberikan kesejahteraan yang sebesar-besarnya bagi masyarakat, maka perlu ada suatu lembaga yang mampu melakukan pengawasan. 

Sehingga ia mengusulkan agar pengawasan tersebut dipegang oleh suatu badan yang disebut industrial elite, yang anggota-anggotanya terdiri atas pakar-pakar ilmiah, para teknisi, serta para pimpinan penguasa.

C. Konsep Tentang Sosialisme Komunitas Bersama

Pada awalnya Sosialisme hanya merupakan suatu Utopis dimana berada dalam angan-angan manusia. Akan tetapi dilain pihak ada tokoh Sosialis yang merealisasi cita-cita mereka dalam kenyataan. Diantaranya adalah Robert Owen (1771-1858), Charles Fourier (1772-1837), dan Louis Blanc (1811- 1882).

Robert Owen adalah seorang pengusaha yang kaya. Robert Owen waktu kecil mengalami penderitaan. Dalam usia kanak-kanak ia pernah bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik tekstil. Tetapi berkat keuletannya Owen kemudian berhasil menjadi seorang pengusaha tekstil yang kaya raya dan mempunyai sebuah pabrik tekstil di New Lamark, Scotlandia.

Ia tidak mau pengalaman pahit yang dideritanya, misalnya waktu masih kecil harus bekerja siang malam, bisa dari jam 8 pagi hingga jam 2 subuh, dialami oleh pekerja-pekerja lain (Karim, 2017). 

Untuk itu Owen membangun pabrik sebagai model untuk perbaikan kesejahteraan para pekerja, yang disebut parallelogram. Owen membayar gaji buruh dengan tingkat upah yang relatif tinggi, dengan jam kerja yang lebih rendah.

Para pekerja diberi fasilitas pemeliharaan kesehatan, kedai-kedai tempat untuk minum-minum, tetapi bukan tempat bermabuk-mabukan. Selain itu untuk para pekerja juga disediakan perumahan yang layak. Ide-ide Owen tentang gerakan Sosialis dapat dilihat dari bukunya The New View of Society (1816).

Owen juga memperjuangkan peran pemerintah dalam pembangunan desa-desa komunal berdasarkan asas koperasi. Untuk merealisir idenya, ia mendirikan percontohan di New Harmony, Indiana, Amerika Serikat.

Sayang percontohan tersebut, juga percontohan lainnya yang didirikannya di Inggris, namun tidak ada yang mampu bertahan lama. Sama seperti Owen, Fourier dan Blanc juga berhasil merealisasikan pemikirannya dengan membentuk suatu daerah ideal yang berdasar atas pemikiran Sosialisme.

Tetapi sayang komunitas-komunitas itu tidak dapat bertahan lama karena beberapa faktor antara lain

  1. oposisi dari beberapa Kapitalis;
  2. kekurangan modal;
  3. tidak kuat bersaing dalam sistem Kapitalis-Liberalis; serta
  4. kelemahan dalam pengelolaan.

Dapat dikatakan bahwa ide-ide para pemikir Sosialis yang sudah dibahas di atas kebanyakan masih bersifat Utopis, bersifat angan-angan, yang dinilai oleh Marx terlalu naif untuk diikuti. Idealisme mereka memang tinggi, tapi secara teori-praktis tidak bisa direalisasikan.

Kalaupun ada yang merealisasikan angan-angan mereka dengan mendirikan komunitaskomunitas, seperti Owen, Fourier dan Louis Blanc, dan sebagainya, tetapi kebanyakan segera layu sebelum berkembang. Baru di tangan Karl Marx, ide sosialisme memperoleh “landasan ilmiah”, untuk berkembang menjadi sesuatu yang realistis.

0

Post a Comment