WcBma5LrLOg50X66kF3p5HaCfJ41Lo99JHjSF8cx
Bookmark

Teori Pemikiran Ekonomi Thorstein Bunde Veblen (1857-1929)

Teori Pemikiran Ekonomi Thorstein Bunde Veblen (1857-1929)

Veblen adalah anak seorang petani miskin yang melakukan imigrasi dari Norwegia ke Amerika. Keluarga Veblen termasuk keluarga petani miskin yang di dalamnya ada Sembilan orang bersaudara. Sepertinya latar belakang kehidupan yang serba kekurangan inilah yang menjadi pangkal tolak mengapa dalam kehidupannya ia sering bersikap getir, skeptis, dan bahkan ada yang menilainya sebagai seorang fasis. 

Gelar yang diberikan pada Veblen sangat banyak. Selain gelar-gelar diatas, ia juga sering digelari sebagai seorang maverick, yang kira-kira bisa diartikan dengan orang yang suka “lain dari yang lain” (Sanusi, 2004).

Gelar lain yang diberikan pada Veblen adalah iconoclast, yaitu orang yang suka menyerang dan ingin menjatuhkan ide-ide atau gagasan-gagasan orang-orang/institusi tradisional yang diterima secara umum (iconoclast = one who attacks and seeks to overthrow traditional or popular ideas or institutions).

Dari buku-buku yang ditulis telah membuat Veblen sangat terkenal. Deliarnov (2016), beberapa buku yang ditulis nya antara lain: The Theory of Leisure Class (1899), The Theory of Business Enterprise (1904), The Instict of Workmanship and the state of the Industrial Art (terbit tahun 1914, dan tahun 1920 dipublikasikan kembali dengan judul: The Vested Interests and the Comman Man); The Enggeneer and The Price system (1921); Absentee Ownership in Recent Time; The Cese of America (1923).

Selain buku-buku yang disebutkan di atas masih banyak buku-buku lain yang ditulisnya menyangkut masalah sosial, politik, bahkan juga tentang pertahanan keamanan, dunia pendidikan dan sebagainya. 

Inti pemikiran Veblen dapat dinyatakan dalam beberapa kenyataan ekonomi yang terlihat dalam perilaku individu dan masyarakat dan tidak hanya disebabkan oleh motivasi ekonomi tetapi juga karena motivasi lain (seperti motivasi sosial dan kejiwaan), maka Veblen tidak puas terhadap gambaran teoretis tentang perilaku individu dan masyarakat dalam pemikiran ekonomi ortodoks (Deliarnov, 2016). 

Dengan demikian, ilmu ekonomi menurut Veblen jauh lebih luas daripada yang ditemukan dalam pandangan ahli-ahli ekonomi ortodoks. Veblen pada intinya mengkritik teori-teori yang digunakan kaum klasik dan neo-klasik yang model-model teoritis dan matematisnya dinilai bias dan cenderung terlalu menyederhanakan fenomena-fenomena ekonomi.

Pemikiran-pemikiran ekonomi klasik dan neo klasik juga dikritiknya karena dianggap mengabaikan aspek-aspek non ekonomi seperti kelembagaan dan lingkungan. Padahal Veblen menilai pengaruh keadaan dan lingkungan sangat besar terhadap tingkah laku ekonomi masyarakat.

Struktur politik dan sosial yang tidak mendukung dapat meinblokir dan menimbulkan distorsi proses ekonomi. Pola pemikiran Veblen sangat berbeda dan pola pemikiran pakar-pakar ekonomi lain. (kecuali Spencer, tokoh idolanya).

Bagi Veblen masyarakat adalah suatu kompleksitas dimana tiap orang hidup, dan dipengaruhi serta ikut mempengaruhi pandangan dan perilaku orang lain. Dari penelitian dan pengamatannya ia menyimpulkan bahwa perilaku masyarakat berubah dari tahun ke tahun.

Penelitian tentang perubahan perilaku dilakukannya dengan pendekatan metode induksi. Dengan metode induksi ia dapat menjelaskan perilaku masa lalu dan sekarang, disamping bisa pula meramal atau memperkirakan perilaku masa yang akan datang.

Bagi Veblen masyarakat merupakan suatu fenomena evolusi, dimana segala sesuatunya terus-menerus mengalami perubahan. Pola perilaku seseorang dalam masyarakat disesuaikan dengan kondisi sosial sekarang. Jika perilaku tersebut cocok dan diterima, maka perilaku diteruskan.

Sebaliknya. jika tidak cocok, maka perilaku akan disesuaikan dengan lingkungan. Keadaan dari lingkungan inilah yang disebut Veblen “institusi”.

Dalam hal ini hendaknya jelas bahwa yang dimaksudkan Veblen dengan ”institusi” bukan institusi atau kelembagaan dalam artian fisik melainkan dalam artian yang terkait dengan nilai-nilai, norma-norma, kebiasaan serta budaya, yang semuanya terrefleksikan dalam kegiatan ekonomi, baik dalam berproduksi maupun mengkonsumsi (Sanusi, 2004). 

Dalam berproduksi akan kelihatan bagaimana nilai-nilai dan normanorma serta kebiasaan yang dianut dalam mengejar tujuan akhir dari kegiatan produksi, yaitu keuntungan Ada keuntungan yang diperoleh melalui kerja keras dan ada juga yang diperoleh dengan “triktrik” licik dengan menggunakan segala macam cara tanpa memperdulikan orang lain.

Begitu juga dalam perilaku konsumsi ada perilaku konsumsi yang wajar, yaitu ingin memperoleh manfaat atau utilitas yang sebesar-besarnya dan tiap barang yang dikonsumsinya, dan ada pula yang tidak wajar kalau konsumsi ditujukan hanya untuk pamer, yang oleh Veblen disebut conspicuous consumption.

Ladasan pemikiran seperti dijelaskan di atas jelas bukan pemikiran ekonomi, melainkan lebih mengarah ke sosiologi. Tetapi kalau digabung, ia akan menjadi pemikiran ekonomi aliran Institusional atau aliran kelembagaan (institutional economics).

0

Post a Comment