Teori Permintaan Uang dan Penawaran Uang
Ketidakstabilan ekonomi yang ditandai dengan tingginya tingkat pengangguran dapat memengaruhi nilai mata uang negara. Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara pengangguran dengan stabilitas ekonomi yang diwakili oleh nilai mata uang.
Pada materi ini, kamu akan mempelajari konsep permintaan dan penawaran uang serta pengaruhnya terhadap inȵasi dan solusi mengatasinya melalui kebijakan moneter.
Teori Permintaan Uang
Apakah kamu pernah meminta uang jajan dari orang tuamu? Jika iya, apakah kamu menggunakan uang tersebut untuk belanja? Jika kamu melakukan tindakan tersebut, sebetulnya kamu sedang melakukan permintaan uang.
Sama halnya dengan tindakanmu yang meminta uang pada orang tua untuk belanja, masyarakat juga melakukan permintaan uang untuk melakukan transaksi ekonomi. Guna memahami tindakan masyarakat dalam melakukan permintaan uang, kamu perlu mengetahui teori permintaan uang.
Teori permintaan uang adalah sejumlah uang yang diperlukan masyarakat atau keinginan masyarakat untuk memegang uang dalam periode waktu tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Teori permintaan uang dikembangkan oleh beberapa tokoh ekonomi.
Salah satunya ialah Irving Fisher. Teori permintaan uang Irving Fisher juga disebut dengan teori kuantitas uang. Teori kuantitas uang menjelaskan bagaimana uang beredar di masyarakat. Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang, yaitu sebagai berikut.
Keterangan :
M = Money (jumlah uang beredar)
V = Velocity (kecepatan peredaran uang)
P = Price (harga)
T = Transaction (volume barang yang diperdagangkan)
Selain Fisher, teori permintaan uang juga dikemukakan oleh John Maynard Keynes. Keynes menyebutkan bahwa masyarakat memiliki tiga motif dalam memegang uang, yaitu sebagai berikut.
1. Motif Transaksi
Motif transaksi adalah motif masyarakat memegang uang dengan tujuan melakukan transaksi ekonomi atau konsumsi sehari-hari. Dorongan untuk melakukan kegiatan membeli barang maupun jasa merupakan salah satu penerapan dari motif ini.
2. Motif Berjaga-jaga
Motif berjaga-jaga adalah motif masyarakat memegang uang dengan tujuan melakukan pembayaran. Salah satunya adalah pembayaran yang tidak terduga di masa yang akan datang. Misalnya, uang digunakan untuk pembayaran saat sakit.
3. Motif Spekulasi
Motif spekulasi adalah motif masyarakat memegang uang dengan tujuan melakukan kegiatan spekulasi melalui pembelian produk-produk investasi dengan harapan mendapatkan keuntungan di masa yang akan datang. Contoh produk-produk investasi tersebut adalah saham, obligasi, dan reksadana.
Teori Penawaran Uang
Jika permintaan uang dilakukan oleh masyarakat, siapakah pihak yang melakukan penawaran uang? Berapa banyak uang yang ditawarkan pada masyarakat? Penawaran uang adalah jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Bank Indonesia, selaku otoritas moneter di Indonesia, memiliki tugas untuk mengatur jumlah uang beredar.
Menurut Bank Indonesia (BI), komponen uang beredar terdiri dari uang kartal yang dipegang masyarakat, uang giral, uang kuasi, dan surat berharga selain saham yang diterbitkan oleh sistem moneter.
Komponen uang dibagi menjadi dua, yaitu uang dalam arti sempit (M1) dan uang dalam arti luas (M2). Menurut Bank Indonesia, M1 terdiri dari uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral, termasuk uang elektronik yang diterbitkan bank.
Uang kartal adalah uang yang diterbitkan oleh Bank Indonesia yang menjadi alat pembayaran yang sah, di antaranya uang kertas dan uang logam. Uang giral adalah uang yang diterbitkan oleh bank umum yang berupa saldo atau tagihan, contohnya cek, wesel, dan kartu kredit.
Uang beredar dalam arti luas (M2) adalah komponen M1 ditambahkan uang kuasi. Uang kuasi sendiri terdiri dari simpanan berjangka dan tabungan (rupiah dan valas) serta simpanan giro valas. Secara sederhana, rumus M1 dan M2 adalah sebagai berikut.
M1 = Uang kartal + Uang Giral
M2 = M1 + Uang Kuas

Post a Comment