Pengertian Analisis Makroekonomi

Table of Contents
Pengertian Analisis Makroekonomi

Ketidakpastian ekonomi secara bertahap menyebar ke seluruh dunia pada umumnya disebabkan oleh dua hal, yaitu intervensi pemerintah dan perkembangan global.

Meskipun telah ditunjukkan secara luas dalam literatur bahwa ketidakpastian global dapat berdampak pada setiap sektor ekonomi, tetapi para pelaku ekonomi juga memberikan respon terhadap ketidakpastian ini secara berbeda, terutama ketika menghadapi guncangan yang tidak terduga.

Indikator ekonomi makro memungkinkan negara untuk berkonsentrasi pada barang, jasa, dan entitas lain yang menumbuhkan Produk Domestik Bruto (PDB). Seringkali, mengidentifikasi indikator makro sebagai tantangan perekonomian sebuah negara.

Resesi yang terjadi di Amerika Serikat pada tahun 2007- 2009 kita kenal dengan “resesi global”. Hal ini baru benar-benar pertama kali terjadi di AS. Resesi global yang terjadi di AS diakibatkan oleh penurunan kondisi ekonomi yang parah, seiring dengan penurunan kondisi ekonomi di negara-negara lain pula.

Di saat dunia sedang berjuang untuk pemulihan ekonomi dari resesi global, saat ini merupakan waktu yang tepat untuk merenungkan kondisi perekonomian makro yang saling ketergantungan secara internasional.

Saat ini yang menjadi pertanyaan penting adalah sejauh mana sebuah kondisi ekonomi nasional dapat bergerak dalam sebuah siklus resesi dan dan pemulihan? Apakah suatu tren dalam integrasi pasar barang dan aset suatu negara dapat memberikan peluang bahkan ancaman dari suatu negara ke negara lain?

Untuk implikasi kebijakan, apakah sebuah pergerakan barang dan aset yang dilakukan dapat meningkatkan nilai ekonomi makro domestik di sebuah negara?

Memang, pasar perumahan yang terlalu panas di AS menyebabkan krisis subprime mortgage pada tahun 2007, yang selanjutnya mengurai rantai peristiwa yang mengarah ke perbankan nasional skala besar dan krisis sektor perbankan "bayangan" dan, pada akhirnya, penularan keuangan lintas batas dan krisis global. resesi ekonomi.

Overheating pasar keuangan dan pembentukan gelembung aset memicu situasi ekonomi makro terburuk, yang tampaknya tidak unik untuk krisis sebelumnya dalam sejarah dunia.

Ada banyak boom-bust yang menghancurkan di dunia, seperti Dutch Tulip Mania pada tahun 1630-an, Gelembung Laut Selatan tahun 1720, Kehancuran Pasar Saham AS tahun 1929, Gelembung Pasar Real Estat dan Ekuitas Jepang pada akhir tahun 1980-an dan Gelembung Dot Com tahun 2000.

Sebuah data memberikan indikasi bahwa resesi global yang terjadi di AS bukanlah suatu episode yang biasa. Pada saat terjadi resesi global, gross domestic product (GDP) memberikan pengaruh terhadap kondisi resesi tersebut, karena data menunjukkan bahwa salah satu indikator terjadinya ketika resesi global di AS adalah menurunnya GDP di AS.

GDP dapat dikatakan sebagai suatu konsep pendapatan nasional, dimana GDP merupakan jumlah produk barang dan jasa, yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam negeri.

Kebijakan makroekonomi dapat memberikan pengaruh terhadap tata kelola internal usaha mikro, hal ini dapat mendukung perusahaan dan manajemen untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan saham dan mengurangi motivasi untuk memanipulasi transaksi saham (Cai et al., 2022).

Ekonomi makro membahas mengenai analisa seluruh keadaan dari aktivitas perekonomian dan tidak membahas mengenai kegiatan yang menyangkut bagaimana individu sebagai produsen, konsumen atau pemilik faktor-faktor produksi melainkan menganalisa keseluruhan tindakan para konsumen, para pengusaha, lembaga keuangan, pemerintah, dan bagaimana tindakan-tindakan tersebut dapat mempengaruhi perekonomian dalam skala besar.

Dalam Mankiw (2010) mencatat bahwa masalah yang kerap kali dihadapi dalam ekonomi makro adalah inflasi, pengangguran, dan ketimpangan neraca pembayaran. Pemerintah memiliki peran dalam mementukan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal.

Kebijakan moneter merupakan kebijakan makro yang mengarahkan perekonomian menjadi lebih baik dengan mengintervensi jumlah uang yang beredar.

Sedangkan kebijakan fiskal merupakan kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk memulihkan perekonomian dengan melakukan intervensi dari sisi pengeluaran dan penerimaan pemerintah.

Ketika ketidakpastian kebijakan ekonomi meningkat, perusahaan sering meningkatkan kepemilikan kas mereka untuk melindungi kebutuhan pinjaman di masa depan (F.Baum et al., 2006; Han dan Liu, 2011; Wang et al., 2014; Li dan Shi, 2016; Yu et al., 2019), mengurangi pembayaran dividen (Huang dan Wessels, 1988) dan meningkatkan kecepatan penyesuaian kas (Zhang et al., 2014).

Ketidakpastian kebijakan ekonomi menghambat perilaku investasi perusahaan (Julio dan Yook, 2012; Gulen dan Ion, 2016) dan investasi perusahaan dalam bentuk aset berwujud jangka pendek seperti belanja modal (Li dan Yang, 2015; Gulen dan Ion, 2016).

Pengaruh ketidakpastian kebijakan ekonomi pada investasi perusahaan dan perilaku pembiayaan dapat diperluas ke investasi keuangan. Ketika ketidakpastian ekonomi meningkat, sulit bagi perusahaan untuk membentuk ekspektasi yang stabil terhadap tren ekonomi masa depan.

Sejak reformasi struktur pembagian saham pada tahun 2005, “saham mayoritas yang tidak dapat diperdagangkan” dan “saham minoritas yang tidak dapat diperdagangkan” telah menjadi topik hangat di dunia akademis dan praktik.

Sangat penting untuk mempelajari dampak lingkungan kebijakan ekonomi makro terhadap perilaku perdagangan pasar saham.

Ketidakpastian kebijakan makroekonomi meningkatkan tata kelola internal perusahaan, mengurangi masalah keagenan, dan secara efektif menghambat perdagangan orang dalam yang oportunistik (Cai et al., 2022).

Hal-hal yang menyangkut indikator makroekonomi yang akan mempengaruhi kondisi pasar ini ditemukan berbeda-beda dalam setiap kejadian guncangan pasar. Indikator berbasis revisi juga mengidentifikasi tiga guncangan ketidakpastian utama yang sama antara tahun 1965 dan 2019.

Yakni, resesi tahun 1970-an, resesi awal 1980-an, dan resesi Hebat tahun 2008. Indikator berbasis revisi mencapai titik tertinggi puncaknya selama tahun 1970-an.

Mempertimbangkan bahwa resesi pada tahun 1970-an terdiri dari guncangan harga minyak pertama, runtuhnya Sistem Bretton Woods dan berakhirnya ekspansi ekonomi pasca Perang Dunia II, hal ini tampak koheren dengan perspektif sejarah ekonomi yang lebih luas.

Evaluasi empiris pada penelitian milik Dibiasi & Sarferaz (2023) menunjukkan hubungan yang kuat dan negatif antara langkah-langkah ketidakpastian berdasarkan revisi dan ekonomi.

Memperkirakan VAR untuk Amerika Serikat dan negaranegara G7 menunjukkan bahwa guncangan deviasi satu standar dalam indikator ketidakpastian berdasarkan revisi menyebabkan kontraksi pada PDB, investasi, lapangan kerja, dan konsumsi.

Pengaruh berita ekonomi makro yang terjadwal memberikan sentimen pasar harian dengan membandingkan sentimen pada tanggal pengumuman berita dengan tanggal non-pengumuman. Pengumuman indikator ekonomi makro tidak mengubah sentimen pasar intraday maupun harian. 

Namun, arah dari nilai yang diumumkan memiliki efek asimetris pada sentimen pasar intraday, meskipun tidak mempengaruhi sentimen pasar harian.

Misalnya, pengumuman kenaikan produk domestik bruto (PDB) mengurangi sentimen pasar intraday jangka pendek, sedangkan pengumuman penurunan PDB tidak secara signifikan mempengaruhi sentimen pasar intraday.

Pengaruh sentimen pasar intraday pada pengembalian pasar jangka pendek lebih besar setelah pengumuman indikator ekonomi makro yang secara signifikan mempengaruhi sentimen pasar intraday (Seok, et al., 2022).

Baru-baru ini penelitian yang dilakukan oleh Ma, et al., (2022) dengan menerapkan indeks perhatian ekonomi makro (Macroeconomics Attention Indices/MAI) dari Fisher et al. (2021) yang digunakan dalam memprediksi return pasar saham berdasarkan metode reduksi dimensi dan metode penyusutan menemukan bahwa MAI dapat memprediksi pengembalian pasar saham secara lebih signifikan daripada variabel ekonomi tradisional.

Kedua, komponen indeks MAI lebih informatif dalam peningkatan akurasi prediksi return pasar saham. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa MAI dapat mewujudkan kemampuan prediktif yang unggul selama pandemi COVID-19 dan dalam periode waktu yang lebih lama.

Studi kami menyoroti prediksi pengembalian pasar saham dari perspektif fundamental ekonomi makro. Menurut Suryana (2009), lingkungan makro adalah lingkungan di luar organisasi yang dapat mempengaruhi keseluruhan vitalitas organisasi, antara lain lingkungan ekonomi, lingkungan teknologi, lingkungan sosial politik, dan lingkungan demografis.

Setiap pembentukan model bisnis selalu terkait erat dengan politik dan hukum. Budaya politik dan hukum adalah seperangkat keyakinan atau sikap yang memengaruhi kebijakan publik dan administrasi suatu negara, termasuk pola kebijakan ekonomi atau perilaku bisnis.

Namun, aspek ini sangat berguna jika industri kecil paham bagaimana memanfaatkan kemungkinan aspek ini. Pertimbangan ekonomi lokal, regional, nasional dan global mempengaruhi peluang bisnis. Lingkungan ekonomi memiliki pengaruh yang kuat pada hasil penjualan dan biaya perusahaan.

Variabel ekonomi seperti inflasi, suku bunga dan fluktuasi nilai tukar mempengaruhi perusahaan secara langsung maupun tidak langsung.

Inflasi atau kenaikan harga membuat bisnis sulit bagi pengusaha. Naiknya suku bunga dan fluktuasi mata uang juga mempersulit perusahaan untuk mempertanggungjawabkan keuangannya.

Dalam bisnis, peran teknologi yang andal dalam mendukung kemampuan unit bisnis untuk memenangkan persaingan bisnis sudah tidak diragukan lagi. Penggunaan teknologi ini bertujuan untuk mendongkrak penjualan dan meningkatkan efisiensi kerja.

Sehingga teknologi ini berdampak besar pada kinerja perusahaan. Perubahan teknologi yang drastis pada abad terakhir telah memperluas cakupan seluruh industri. Teknologi baru telah menghasilkan produk baru dan perubahan produk lainnya.

Hubungan dan jaringan sosial dan budaya merupakan prasyarat terpenting bagi kegiatan operasional departemen. Produk dan jasa yang dihasilkan seringkali dipengaruhi oleh perubahan sosial dan budaya berupa demografi dan gaya hidup.

Kelompok masyarakat, gaya hidup, kebiasaan, pendapatan dan struktur masyarakat dapat menjadi peluang bagi industri untuk menciptakan suatu produk. Semakin tinggi tingkat sosial maka kebutuhan produk yang dihasilkan suatu industri akan meningkat, sehingga aspek sosial dan budaya memiliki hubungan dengan kinerja industri.

Inflasi

Inflasi dapat dikatakan sebagai kondisi perekonomian yang mengalami peningkatan harga barang secara agregat dan berkelanjutan. Sementara di sisi lain, inflasi juga dapat meningkatkan kondisi kemiskinan seiring dengan menurunkan tingkat pendapatan.

Perekonomian yang tidak stabil dalam suatu negara tentu dapat menghambat masuknya investasi luar negeri. Sedangkan tingginya inflasi menjadi salah stau indikator ketidakstabilan ekonomi. Dalam ini dapat diartikan bahwa pemerintah telah gagal dalam menyeimbangkan kondisi pasar dan uang. 

Tingginya inflasi juga mengakibatkan naiknya harga barang dan jasa, ini dapat mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat diakibatkan tingginya harga. Ini berarti bahwa salah satu faktor makroekonomi yang harus dikendalikan demi stabilnya kondisi ekonomi dan investasi adalah inflasi.

Pengangguran

Pengangguran dapat diartikan sebagai seorang individu yang sudah masuk dalam golongan angkatan kerja aktif sedang mencari kerja pada suatu tingkat upah tertentu tetapi tidak/ belum memperoleh pekerjaan yang diinginkan.

Apabila dalam suatu negara jumlah penganggurannya tinggi, maka ini menjadi sebuah indikator bahwa sumber daya ekonomi masih timpang dikarenakan belum banyaknya SDM yang terserap di wilayah suatu negara.

Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai pertumbuhan riil secara output suatu perekonomian dalam satu tahun.

Pertumbuhan ekonomi diukur dengan melihat naiknya Produk Nasional Bruto (PNB) riil atau produk nasional yang menggunakan harga konstan (base year). Tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan salah satu tujuan utama kebijakan makro ekonomi.

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan analisis makroekonomi?
Analisis makroekonomi adalah kajian yang mempelajari kondisi perekonomian secara keseluruhan, termasuk pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, suku bunga, nilai tukar, hingga kebijakan pemerintah. Tujuannya adalah memahami faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas dan perkembangan ekonomi suatu negara.
2. Mengapa analisis makroekonomi penting?
Analisis makroekonomi penting karena membantu pemerintah, pelaku usaha, investor, dan masyarakat dalam memahami kondisi ekonomi sehingga dapat mengambil keputusan yang lebih tepat terkait investasi, konsumsi, produksi, maupun kebijakan ekonomi.
3. Apa perbedaan analisis makroekonomi dan mikroekonomi?
Analisis makroekonomi berfokus pada kondisi ekonomi secara keseluruhan, seperti pertumbuhan ekonomi nasional dan inflasi. Sementara itu, mikroekonomi mempelajari perilaku individu, rumah tangga, dan perusahaan dalam mengambil keputusan ekonomi.
Bonpas Finance
Bonpas Finance Karena Mencoba Pasti Selalu Ada Kesempatan

Post a Comment