Manajemen Kas Perusahaan
Kas merupakan awal dari investasi dan operasi dari suatu perusahaan. Kas terdiri dari mata uang (currency), giro, dan rekening koran di bank (bank deposits).
Perusahaan atau perseorangan menyimpan uang tunai (kas) untuk motif transaksi, motif pencegahan, dan motif spekulatif. Suatu perusahaan harus memiliki uang kas yang cukup dengan alasan untuk :
- memperoleh potongan harga pada saat membeli bahan baku atau peralatan
- menjaga rasio cair (acid test ratio) agar tetap memperoleh kepercayaan dari kreditur
- menangkap peluang bisnis sewaktu-waktu
- mengantisipasi keadaan darurat seperti pemogokan, persaingan, dan sebagainya
Manajemen (pengelolaan) kas dimaksudkan untuk memaksimalkan pemanfaatan kas tanpa harus mengabaikan likuiditas. Artinya berusaha memegang kas seminimal mungkin dimana operasional sehari-hari tetap jalan serta kewajiban terhadap kreditur juga lancar.
Kas merupakan aktiva yang paling lancar, dan segera bisa digunakan untuk melunasi kewajiban finansial. Namun kas memberi keuntungan yang paling rendah. (bandingkan kas di saku, kas dalam bentuk tabungan di bank, rekening giro maupun deposito, dan lain lain).
Karena menyimpan kas memberi keuntungan yang paling rendah diantara berbagai kesempatan investasi, bukan berarti semua kas harus di rubah ke bentuk lain (tabungan, deposito, surat berharga dan lain lain).
Memegang kas masih diperlukan sebagai cadangan untuk transaksi yang akan dilakukan, berjaga-jaga dan spekulasi, Keynes dalam (Husnan and Pudjiastuti, 1998). Lagi pula kas yang terlalu sedikit akan mengganggu kelancaran perusahaan dalam melunasi utang jangka pendek.
Dengan demikian kas harus dikelola dengan prinsip keseimbangan (tidak kekurangan dan tidak juga berlebihan). Jika kekurangan perusahaan akan menghadapi kemungkinan dengan permasalahan likuiditas yang semakin meningkat.
Dan sebaliknya bila berlebihan dana menganggur dan kehilangan kesempatan untuk memperoleh penghasilan. Suatu perusahaan harus memiliki anggaran kas untuk menjaga posisi likuiditas dan untuk mengetahui defisit atau surplus kas.
Anggaran kas ialah estimasi posisi kas periode tertentu dimasa mendatang tentang penerimaan kas dan tentang pengeluaran kas. Penerimaan kas itu pada umumnya dari modal pemilik, utang, penjualan tunai, penerimaan piutang, penjualan aktiva tetap, dan lain-lain.
Sedangkan pengeluaran kas itu pada umumnya untuk pembelian aktiva tetap, pembelian bahan baku, pembayaran upah tenaga kerja langsung, pembayaran biaya tidak langsung pabrik, pembayaran biaya pemasaran, pembayaran biaya umum, dan administrasi, pembayaran bunga, pembayaran deviden, pembayaran jasa produksi, pembayaran premi asuransi, pembayaran pajak, dan pengeluaran lain-lain (Sujana, 2009).
Perusahaan yang memiliki kelebihan kas dapat dibelikan surat-surat berharga (efek atau marketable securities atau temporary investment) yaitu obligasi, saham biasa, dan saham preferen.
Pembelian efek dilakukan untuk tujuan menjaga likuiditas (karena hakikatnya efek tersebut adalah uang tunai, artinya mudah dijual di pasar bursa) dan untuk tujuan investasi sementara untuk memperoleh keuntungan atas dasar pembedaan harga jual dan harga beli.
Investasi pada efek yang jangka panjang yang semata-mata bertujuan untuk memperoleh keuntungan disebut “permanent investment” atau “investment” yang dikelompokkan dalam harga tetap.
Dalam usaha meluaskan pasar, pada umumnya perusahaan menjual hasil produksinya secara kredit yang melahirkan piutang. Kemudian diadakan penagihan untuk kembali menjadi uang tunai. Siklus kas perusahaan adalah:
Pengeluaran kas untuk persediaan itu meliputi persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses, dan persediaan barang jadi. Makin tinggi ketiga nilai persediaan berarti makin besar kas tertanam kepadanya.
Besarnya investasi dalam piutang ditentukan oleh :
- volume penjualan kredit
- syarat pembayaran kredit
- ketentuaan tentang pembatasan kredit
- kebijakan pengumpulan piutang
- kebiasaan dan karakter pelanggan
Pertimbangan pemberian kredit didasarkan pada :
- character, yaitu karakter para manajemen
- capacity yitu kemampuan atau kesanggupan membayar
- capital, yaitu kondisi posisi keuangan
- collateral yaitu besarnya harta pelanggan
- condition, yaitu kondisi ekonomi, sosial, politik, dan bisnis
Pemberian kredit kepada pelanggan ditentukan oleh hasil penelitian dan analisis kondisi likuiditas, rentabilitas, dan soliditas pelanggan (soliditas moral, komersial, finansial). Ketiga unsur tersebut yang terpenting adalah unsur soliditas atau kepercayaan.
Untuk menjaga kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan, manajer keuangan harus membuat anggaran kas
Aliran Kas
Kas suatu perusahaan harus dikelola dengan baik. Sebab, ia merupakan jantung yang menggerakkan semua kegiatan, khususnya kegiatan operasi rutin. Suatu perusahaan yang kekurangan kas akan kehilangan kepercayaan dari luar dan dari dalam perusahaan.
Pihak luar akan tidak percaya bila tagihannya tidak dibayar tepat waktu, dan pihak dalam terutama buruh akan tidak percaya bila upahnya tidak dibayar tepat waktu.
Jika perusahaan kehilangan kepercayaan dari buruhnya dan pemasoknya (krediturnya) perusahaan tersebut lambat laun akan bangkrut. Buruh mulai tidak loyal dan tidak produktif; pemasok dan kreditur mulai tidak mengadakan transaksi bisnis dengan baik.
Akibatnya, produk berkualitas rendah dan sulit masuk pasar. Kebangkrutan menunggunya. Oleh sebab itu, kas harus dikelola dengan baik, jujur, hati-hati, dan profesional.
Keuntungan Memiliki Kas Yang Cukup
Perusahaan yang memilki kas yang cukup adalah perusahaan yang memilki reputasi bisnis yang baik, karena semua transaksi dan utang-utangnya dapat dibayar tepat pada waktunya.
Disamping itu, perusahaan tersebut dapat memperoleh keuntungan dari pembelian bahan baku atau barang dagangannya karena dapat melakukan pembelian tunai dengan memperoleh diskon.
Misal, term of trade 2/10, net 30, jika debitur membayar dalam waktu 30 hari, maka ia tidak memperoleh diskon, dan jika debitur membayar 10 hari dari tanggal pembelian, maka ia akan memperoleh diskon 2%.
Berdasar data itu dapat dihitung besarnya biaya modal jika perusahaan tidak mengambil diskon adalah sebagai berikut :
Itu menunjukkan bahwa sesungguhnya besarnya bunga tahunan sebesar 37%. Jika perusahaan tidak mengambil potongan tunai atau cash discount, ia kehilangan dan menanggung bunga 37,23% per tahun.
Manajemen keuangan yang profesional dapat dipastikan ia akan mengambil potongan tunai. Jika kasnya tidak cukup, ia dapat mengambil kredit dari bank untuk membeli tunai.
Jika besarnya bunga kredit dibawah 37,23%, ia akan mengambil kredit, dan jika besarnya bunga kredit diatas 37,23%, ia bersedia kehilangan potongan tunai, artinya ia akan membayar utang dagangnya dalam waktu 30 hari dari tanggal pembelian.
Misalnya dalam satu tahun jumlah pembelian Rp 1.000 bunga kredit bank 20% per tahun. Perusahaan akan mengambil potongan tunai atas pembeliannya, dan ia akan memperoleh keuntungan walaupun pembeliannya itu dibayar dengan kredit dari bank. Teknik perhitungannya :
Potongan pembelian 37,23% x Rp 1.000 = Rp 373,20
Pembayaran bunga bank 20% x Rp 1.000 = Rp 200,00
Keuntungan atas pembelian tunai = Rp 173,20
Perusahaan yang memilki posisi kas kuat, ia memiliki kekuatan tawar tinggi kepada pemasok (Hartono, 2022); ia dapat tawar menawar besarnya potongan tunai; ia dapat memilih pemasok yang baik.
Disamping itu, ia memiliki reputasi terhormat karena dapat memenuhi semua kewajibannya tepat waktu.
Anggaran Kas
Kas memiliki kedudukan penting dalam menjaga kelancaran operasi perusahaan. Jumlah kas yang lebih atau kurang dapat berakibat kurang baik pada perusahaan. Kekurangan kas dapat mengakibatkan tidak terbayarnya kewajiban, seperti hutang, gaji, bunga bank dan sebagainya.
Hal ini selain dapat menurunkan stabilitas produktivitas kerja serta dapat menurunkan kredibilitas perusahaan. Sebaliknya kas yang berlebihan dapat menyerap dana modal kerja yang langka dan mahal, sehingga menaikkan beban tetap perusahaan.
Oleh karena itu uang kas yang ada dalam perusahaan juga merupakan salah satu bentuk pilihan investasi. Anggaran kas menunjukkan rencana penggunaan sumber dan penggunaan kas selama tahun anggaran yang terdiri dari rencana penerimaan kas (aliran kas masuk) dan perencanaan kas keluar (aliran kas keluar).
Sifat aliran kas baik aliran kas masuk atau aliran kas keluar dapat bersifat kontinyu maupun tidak. Adapun aliran kas masuk yang bersifat kontinyu dapat berasal dari penjualan produk secara tunai dan hasil pelunasan piutang.
Sedangkan aliran kas yang bersifat tidak kontinyu dapat berasal dari penyertaan modal pemilik perusahaan, penjualan saham, penerimaan kredit bank dan penjualan aktiva yang sudah tidak terpakai lagi.
Aliran kas keluar yang bersifat tidak kontinyu misalkan pengeluaran kas untuk pembayaran bunga, dividen, pajak pendapatan, pembayaran anggaran hutang, pembelian kembali saham yang beredar serta pembelian aktiva tetap.
Tujuan Penyusunan anggaran kas diantaranya :
- Menentukan posisi kas pada berbagai waktu dengan membandingkan uang kas masuk dan uang kas keluar.
- Memperkirakan kemungkinan terjadinya defisit atau surplus.
- Mempersiapkan keputusan pembelian jangka pendek dan jangka panjang, dimana bila terjadi defisit, perusahaan perlu mencari dana tambahan baru dan sebaliknya bila perusahaan mengalami surplus maka perusahaan harus memilih alternatif penggunaan yang paling menguntungkan.
- Sebagai dasar pemberian kredit.
- Sebagai dasar otoritas dana anggaran yang disediakan.
- Sebagai dasar penilaian terhadap realisasi pengeluaran kas sebenarnya.

Post a Comment