Jenis - Jenis Rasio Keuangan
Analisis rasio keuangan merupakan suatu analisis dengan membagi angka satu dengan angka lainnya yang terdapat pada laporan keuangan (Kasmir, 2019). Pengertian analisis rasio keuangan menurut Halim (2016) adalah rasio yang pada dasarnya disusun dengan menggabungkan angka-angka di dalam atau antara laporan laba-rugi dan neraca.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa analisis rasio keuangan merupakan kegiatan menganalisis laporan keuangan dengan cara membandingkan akun-akun yang terdapat pada laporan keuangan baik laporan laba rugi maupun laporan posisi keuangan.
Tujuan utama dilakukan analisis rasio adalah untuk menilai kinerja perusahaan dimasa lalu yang dapat dijadikan acuan untuk memprediksi kinerja perusahaan dimasa yang akan datang. Adapun fungsi dari analisis raasio keuangan diantaranya;
- Bagi calon investor, analisis rasio keuangan digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan perusahaan mana yang akan dijadikan sebagai tempat untuk melakukan investasi.
- Bagi investor, analisis rasio keuangan digunakan untuk menilai kinerja keuangan sehingga dapat dilihat prospek pertumbuhan perusahaan pada beberapa periode yang akan datang.
- Bagi manajer, analisis rasio keuangan digunakan sebagai salah satu acuan dalam pengambilan keputusan perusahaan.
- Bagi kreditur, analisis rasio keuangan membantu dalam proses pemberian kredit kepada perusahaan. Melalui rasio keuangan dapat dinilai kinerja suatu perusahaan sehingga kreditur mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya.
Jenis-jenis rasio keuangan adalah sebagai berikut (Kasmir, 2019) :
- Rasio Likuiditas
- Rasio Solvabilitas
- Rasio Aktivitas
- Rasio Profitabilitas
Rasio Likuiditas
Rasio Likuiditas atau Liquidity Ratio adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya secara tepat waktu (Fahmi, 2017). Semakin tinggi nilai rasio likuiditas maka semakin tinggi pula kinerja suatu perusahaan.
Likuiditas yang tinggi mengidentifikasikan bahwa aktiva-aktiva yang ada pada perusahaan dapat menjamin seluruh hutang lancar perusahaan. Rasio likuiditas dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya; Current Ratio, Quick Ratio, Cash Ratio, Cash Turnover, dan Inventory to Net Working Capital (Kasmir, 2019).
1. Current Ratio
Current Ratio atau biasa disebut rasio lancar adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancar yang memiliki jatuh tempo kurang dari satu tahun dengan menggunakan aktiva lancar (Hanafi, 2016).
Rasio ini merupakan rasio yang paling sering digunakan dalam mengukur rasio likuiditas. Rasio lancar menggambarkan seberapa besar aktiva lancar perusahaan dapat menjamin hutang jangka pendek yang dimiliki oleh perusahaan.
Semakin besar nilai rasio ini maka semakin baik bagi kondisi keuangan perusahaan. Rumus yang digunakan untuk menghitung Current Ratio atau rasio lancar adalah sebagai berikut :
Kinerja keuangan dikatakan baik apabila nilai perhitungan Current Ratio menunjukkan angka lebih dari 2. Artinya, setiap Rp 1,- hutang lancar akan dijamin dengan Rp 2,- aktiva lancar perusahaan.
Hal ini juga dapat diartikan bahwa jumlah hutang lancar dijamin dengan 2 kali jumlah aktiva lancarnya. Sehingga, kondisi yang seperti ini baik bagi keuangan perusahaan.
2. Quick Ratio
Quick Ratio atau rasio cepat adalah rasio yang digunakan untuk menunjukkan apakah perusahaan mampu membayar hutangnya dengan cepat (Kawatu, 2019). Rasio Cepat mengidentifikasikan bahwa perusahaan harus mampu membayar kewajiban-kewajibannya dengan secepat mengkin.
Perhitungan rasio cepat mencakup aktiva lancar yang dapat diuangkan dengan cepat dibagi dengan utang lancar perusahaan. Aktiva lancar yang digunakan adalah kas, surat berharga atau investasi jangka pendek, piutang, sewa dibayar dimuka dan beban dibayar dimuka.
Dalam hal ini persediaan tidak masuk kedalam rasio cepat karena pada dasarnya persediaan merupakan jenis aktiva lancar yang tidak mudah dikonveresikan menjadi uang tunai.
Persediaan memerlukan proses sampai dia siap untuk dijual kepada para konsumen. Rumus untuk menghitung rasio cepat atau quick ratio adalah sebagai berikut :
Hasil perhitungan rasio lancar yang menunjukkan angka lebih dari 1 (satu) mengidentifikasikan bahwa perusahaan mampu membayar utang-utangnya dengan cepat, kondisi ini akan meningkatkan kinerja perusahaan.
Sebaliknya, apabila rasio lancar kurang dari 1, maka perusahaan tidak dapat membayar utang lancarnya dengan cepat.
3. Cash Ratio
Cash Ratio atau biasa disebut dengan rasio kas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya uang kas atau setara kas yang tersedia di perusahaan untuk membayar hutang lancarnya (Febriana, et. al., 2021).
Semakin besar nilai rasio kas maka semakin baik pula kinerja perusahaan. Nilai rasio kas lebih dari 1 mengidentifikasikan bahwa perusahaan dapat membayar utang lancarnya dengan uang kas yang tersedia diperusahaan.
Apabila rasio kas kurang dari 1, maka perusahaan tidak dapat membayar hutang lancarnya dengan kas perusahaan. Rumus untuk menghitung Cash Ratio atau Rasio Kas adalah sebagai berikut :
4. Cash Turnover
Cash Turnover atau Rasio perputaran kas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan untuk membiayai penjualan (Febriana, et. al., 2021). Rasio ini menggambarkan seberapa besar perputaran kas dan penjualan dalam upaya menghasilkan laba.
Nilai rasio perputaran kas yang meningkat menunjukkan kinerja perusahaan yang semakin baik, namun apabila nilai ini terlalu tinggi maka mengidentifikasikan bahwa terdapat banyak kas menganggur di dalam perusahaan. Rumus untuk menghitung Cash Turnover atau Rasio perputaran kas adalah sebagai berikut :
5. Inventory to Net Working Capital
Inventory to Net Working Capital merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur total persediaan dibagi dengan modal kerja perusahaan. Semakin tinggi nilai rasio Inventory to Net Working Capital maka semakin baik pula kinerja perusahaan.
Nilai rasio Inventory to Net Working Capital yang baik adalah diatas 12% (Kasmir, 2019). Artinya, apabila perusahaan memiliki rasio kurang dari 12%. Maka, kondisi perusahaan sedang tidak baik. Rumus untuk menghitung Inventory to Net Working Capital (INWC) adalah sebagai berikut :
Rasio Solvabilitas (Leverage)
Rasio Solvabilitas atau rasio leverage atau rasio hutang adalah rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana harta perusahaan dibiayai dengan hutang (Hery, 2017).
Rasio solvabilitas digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar seluruh kewajibannya, baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin menurun kinerja perusahaan.
Sebaliknya, semakin rendah nilai rasio solvabilitas maka semakin baik kinerja perusahaan. Jenis-jenis rasio solvabilitas adalah debd to asset ratio, debd to equity ratio, long term debt to equity ratio, tangible assets debd coverage, current liabilities to net worth, times interest earned, fixed charge coverage (Kasmir, 2019).
1. Debt to Asset Ratio Atau Debt Ratio
Rasio ini mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam membayar utang berdasarkan aktiva yang dimilikinya. Semakin besar nilai rasio ini semakin tidak baik bagi kondisi perusahaan.
Tingginya rasio hutang menunjukkan bahwa perusahaan memiliki utang yang besar. Rumus untuk menghitung debt to asset ratio (DAR) adalah sebagai berikut :
2. Debt to Equity Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengukur prosentase jumlah hutang dan modal yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya berdasarkan modal yang dimiliki.
Perusahaan yang baik memiliki jumlah modal yang lebih besar daripada hutang yang dimilikinya. Rumus untuk menghitung debt to equity ratio (DER) adalah sebagai berikut :
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Rasio ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan modal sendiri perusahaan dalam menjamin utang jangka panjang perusahaan. Nilai rasio yang besar menunjukkan bahwa perusahaan memiliki utang jangka panjang yang besar.
Perusahaan yang baik harus mampu memenuhi seluruh kewajiban jangka panjangnya guna menghindari risiko kredit macet. Rumus untuk menghitung Long term debt to equity ratio (LTDER) adalah sebagai berikut:
4. Tangible Assets Debd Coverage
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi hutang jangka panjangnya bedasarkan aset tetap yang dimiliki. Rasio ini menggambarkan seberapa besar utang jangka panjang dijamin oleh aset tetap perusahaan.
Semakin besar nilai rasio ini maka perusahaan memiliki kesempatan yang besar untuk memperoleh pinjaman yang baru.
Sebaliknya, semakin kecil nilai rasio ini maka menggambarkan aset tetap perusahaan tidak dapat menjamin hutang jangka panjangnya. Rumus untuk menghitung Tangible assets debd coverage (TADC) adalah sebagai berikut:
5. Current Liabilities to Net Worth
Rasio ini menggambarkan prosentase jumlah utang lancar dan modal sendiri sebuah perusahaan. Rasio ini megukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancar dengan melihat modal sendiri perusahaan.
Semakin besar nilai rasio ini, maka semakin tidak sehat kinerja keuangan perusahaan. Sebaliknya, semakin rendah nilai rasio ini maka semakin baik kondisi keuangan perusahaan. Rumus yabg digunakan untuk mengukur Current liabilities to net worth (CLNW) adalah sebagai berikut :
6. Times Interest Earned
Times interest earned ratio (TIER) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar bunga. Perusahaah memerlukan pinjaman untuk membiayai aktivitas operasionalnya.
Pada umumnya pembiayaan jangka pendek digunakan untuk kegiatan operasional dan pembiayaan jangka Panjang digunakan untuk ekspansi bisnis. Melalui pinjaman yang diperoleh, perusahaan harus membayar bunga kepada kreditur.
Perusahaan yang tidak dapat membayar bunga maka akan kehilangan kepercayaan dari para kreditur dan akan kesulitan untuk memperoleh pinjaman di masa yang akan datang. Semakin tinggi rasio ini maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga.
Sebaliknya, semakin rendah rasio ini, maka semakin rendah pula kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga. Rumus yang digunakan untuk menghitung TIER adalah sebagai berikut :
7. Fixed Charge Coverage
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi beban bunga dan sewa. Sebagian perusahaan memiliki sewa yang harus dibayarkan. Beban bunga dan beban sewa merupakan beban tetap yang harus dibayarkan bagaiamanpun kondisi keuangan perusahaan dalam suatu periode.
Semakin tinggi rasio ini maka semakin baik kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga dan sewa, sebaliknya semakin rendah nilai rasio ini maka semakin rendah pula kemampuan perusahaan dalam membayar beban bunga dan sewa.
Rasio ini menghitung laba sebelum bunga dan pajak atau Earning before interest and tax (EBIT) dan beban sewa dibandingkan dengan jumlah beban sewa dan beban bunga yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus Fixed charge coverage (FCC) adalah sebegai berikut :
Rasio Aktivitas
Rasio aktivitas adalah rasio yang digunakan untuk menggambarkan sejauh mana suatu perusahaan dapat memanfaatkan sumber daya yang dimiliki secara maksimal (Fahmi, 2012).
Jenis rasio aktivitas adalah rasio perputaran piutang, hari rata-rata penagihan piutang, perputaran persediaan, hari rata-rata penagihan persediaan, perputaran modal kerja, perputaran aktiva tetap, dan perputaran aktiva (Kasmir, 2019).
1. Rasio Perputaran Piutang
Rasio ini digunakan untuk mengukur rata-rata kurun waktu penagihan piutang dalam periode tertentu. Rasio ini menggambarkan jumlah perputaran piutang sampai menjadi uang kas perusahaan. Semakin besar nilai rasio ini semakin baik kondisi perusahaan. Rumus rasio perputaran piutang adalah :
2. Hari Rata-Rata Penagihan Piutang
Setelah diketahui jumlah perputaran piutang, maka perlu diketahui jumlah rata-rata hari yang digunakan untuk penagihan piutang. Rumus hari rata-rata penagihan piutang adalah :
3. Perputaran Persediaan
Rasio ini digunakan untuk menilai seberapa besar jumlah persediaan diubah menjadi uang tunai atau kas. Semakin besar rasio ini menggambarkan bahwa perusahaan dapat dengan cepat mengubah barang persediaan menajdi uang tunai.
Kondisi ini baik bagi perusahaan. Dan sebaliknya, semakin rendah nilai rasio ini semakin buruk bagi kondisi keuangan perusahaan, karena perusahaan tidak dapat menjual barang dagangannya dengan cepat. Rumus untuk menghitung perputaran persediaan adalah :
4. Hari Rata-Rata Penagihan Persediaan
Setelah mengetahui perputaran persediaan, maka jika ingin menghitung rata-rata berapa lama persediaan disimpan digudang dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
5. Perputaran Modal Kerja
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat keefektifan modal kerja perusahaan dalam menghasilkan penjulan selama satu periode. Rasio ini mengambarkan seberapa banyak modal kerja perusahaan berputar dengan tujuan menghasilkan pendapatan.
Modal kerja dihitung dengan cara aktiva lancar dikurangi dengan kewajiban lancar. Sedangkan rasio perputaran modal kerja membandingkan penjualan dengan modal kerja perusahaan.
Semakin tinggi nilai rasio perputaran modal kerja mengidentifikasikan bahwa modal kerja berputar dengan sangat cepat, kondisi ini akan meningkatkan kinerja perusahaan.
Sebaliknya, jika nilai rasio ini kecil maka modal kerja perusahaan berputar secara lambat. Rumus untuk menghitung rasio perputaran modal kerja adalah :
6. Perputaran Aktiva Tetap
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktiva tetap untuk menghasilkan pendapatan. Aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan harus memiliki manfaat yang dapat meningkatkan pendapatan perusahaan.
Rasio ini menggambarkan seberapa efektif aktiva tetap dalam menghasilkan pendapatan. Semakin tinggi nilai rasio ini maka semakin efektif pula aktiva tetap yang dikelola oleh perusahaan. Rumus untuk menghitung rasio perputaran aktiva tetap adalah :
7. Perputaran Aktiva
Rasio ini digunakan untuk menilai kefektifan perusahaan dalam memanfaatkan seluruh aktiva yang dimiliki. Semakin tinggi nilai rasio perputaran aktiva maka semakin tinggi pula kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva tetap untuk menghasilkan pendapatan. Rumus untuk menghitung rasio perputaran aktiva adalah :
Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan penjualan, total aktiva dan modal sendiri (Sartono, 2010). Rasio profitabilitas merupakan rasio yang paling sering digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan.
Pasalnya laba merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan. Salah satu tujuan suatu perusahaan adalah menghasilkan laba yang maksimum.
Begitu juga para investor, sebelum mereka memutuskan untuk berinvestasi disuatu perusahaan, maka akan melihat prospek laba yang akan diperoleh oleh suatu perusahaan. Laba perusahaan yang tinggi akan memberikan kesempatan yang tinggi pula untuk memperoleh dividen.
Tingginya rasio ini menggambarkan bahwa perusahaan dalam kondisi yang sehat. Sebaliknya, semakin kecil nilai rasio profitabilitas maka semakin kecil pula kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Jenisjenis rasio profitabilitas adalah Profit Marjin, Return on Investment, Return on Equity, Laba per lembar saham (Kasmir, 2019).
1. Profit Margin
Rasio ini digunakan untuk menghitung laba kotor yang dihasilkan atas penjualan perusahaan. Laba kotor diperoleh dari jumlah penjualan dikurangi dengan harga pokok penjualan.
Rasio ini menggambarkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Rumus untuk menghitung profit margin adalah sebagai berikut :
Semakin tinggi profit margin maka semakin baik kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba. Profit margin adalah rasio yang sering digunakan oleh pihak internal maupun eksternal perusahaan dalam mengambil keputusan.
Namun beberapa pihak menggunakan margin laba bersih dalam menghitung rasionya. Rumus untuk menghitung margin laba bersih atau net profit margin adalah sebagai berikut :
2. Return on Investment
Return on Investment (ROI) atau Return on Asset (ROA) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dilihat dari total asset yang dimiliki. Rasio ini menggambarkan seberapa besar kemampuan seluruh harta perusahaan dapat menghasilkan laba.
Semakin besar nilai rasio ini maka semakin baik kinerja suatu perusahaan. Rumus yang digunakan untuk menghitung ROA adalah sebagai berikut :
3. Return on Equity
Return on Equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dilihat dari modal yang dimilikinya.
Rasio ini menggambarkan seberapa besar modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan untuk menghasilkan laba. Rumus untuk menghitung ROE adalah sebagai berikut :
4. Laba Per Lembar Saham
Laba per lembar saham atau Earning Per Share ratio (EPS) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur jumlah dividen yang diterima oleh pemegang saham setiap 1 lembar saham yang dimiliki. Perusahaan yang telah menerbitkan saham memiliki kewajiban untuk membayar dividen.
Bagi investor dividen merupakan hal yang sangat penting, Sebagian besar investor menginginkan dividen yang besar agar mereka mendapatkan keuntungan.
Oleh sebab itu rasio ini diperlukan untuk melihat berapa keuntungan mereka setiap lembar saham yang ditanamkan kepada perusahaan. Rumus untuk menghitung EPS adalah sebagai berikut :
Semakin tinggi Earning Per Share ratio menggambarkan bahwa perusahaan memberikan dividen yang tinggi setiap lembar saham yang dimiliki oleh para investor. Perusahaan yang mampu membagikan dividen secara konsisten akan meningkatkan nilai perusahaan.

Post a Comment