Prinsip - Prinsip Akuntansi

Table of Contents
Prinsip - prinsip Akuntansi

Akuntansi yang diterapkan di suatu perusahaan tentunya harus sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Menurut Toto Sucipto (2014:34), prinsip akuntansi adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan akuntansi secara keseluruhan, baik metode, prosedur, maupun ketentuan yang mengandung teori ataupun secara praktis.

Prinsip akuntansi sangat berperan penting dalam kegiatan pencatatan keuangan sebuah perusahaan atau badan usaha. Dengan adanya penerapan prinsip akuntansi ini, maka pencatatan akuntansi dapat memiliki nilai standar yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum.

Penerapan akuntansi yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum akan menghasilkan laporan keuangan perusahaan yang relevan dan mudah dipahami oleh berbagai pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Adapun prinsip dasar akuntansi terdiri atas :

1. Prinsip Biaya Historis

Generally Accepted Accounting Principle (GAAP) mewajibkan sebagian besar aset dan liabilitas diperlakukan dan dilaporkan berdasarkan harga akuisisi yang disebut dengan prinsip biaya historis. 

Prinsip ini menghendaki digunakannya harga perolehan, yaitu harga pertukaran yang disetujui oleh kedua belah pihak yang berkaitan dalam transaksi.

Misalnya, perusahaan membeli peralatan sebesar Rp1.000.000,00, biaya pemasangan dan pengiriman sebesar Rp100.000,00, maka harga perolehan peralatan tersebut sebesar Rp1.100.000,00. Jumlah tersebut akan dilaporkan dalam posisi keuangan sebesar Rp1.100.000,00.

2. Prinsip Pengakuan Pendapatan (Revenue Recognition Principle)

Prinsip ini mengacu pada aliran masuknya aktiva yang timbul dari penyerahan barang atau jasa yang dilakukan oleh suatu unit usaha selama suatu periode tertentu. Dasar yang digunakan untuk mengukur besarnya pendapatan adalah jumlah kas atau ekuivalennya yang diterima dari transaksi penjualan dengan pihak yang bebas.

Biasanya, pendapatan diakui pada saat terjadinya penjualan barang atau jasa, yaitu saat ada kepastian mengenai besarnya pendapatan yang diukur dengan besarnya aktiva yang diterima.

Ketentuan ini tidak selalu dapat diterapkan sehingga muncul ketentuan pengecualian untuk mengakui pendapatan, yaitu pengakuan pendapatan saat produk selesai, selama masa produksi, dan pada saat kas diterima.

3. Prinsip Mempertemukan (Matching Principle)

Prinsip ini mempertemukan biaya dengan pendapatan yang timbul karena biaya tersebut. Prinsip ini dapat berguna untuk menentukan besarnya penghasilan bersih setiap periode. Karena biaya harus dipertemukan dengan pendapatannya, maka pembebanan biaya sangat bergantung pada saat pengakuan pendapatan.

Salah satu akibat dari prinsip ini adalah digunakannya dasar waktu (accrual basis) dalam pembebanan biaya. Itu berarti, harus digunakan jurnal-jurnal penyesuaian setiap akhir periode untuk mempertemukan biaya dengan pendapatan.

4. Prinsip Konsistensi (Consistency Principle)

Prinsip ini digunakan agar laporan keuangan dapat dibandingkan setiap periodenya serta dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Prosedur yang digunakan dalam proses akuntansi harus diterapkan secara konsisten dari tahun ke tahun.

Dengan demikian, dapat segera diketahui, apabila terdapat perbedaan antara pos yang sama dalam dua periode, itu bukan selisih akibat penggunaan metode yang berbeda.

5. Prinsip Pengungkapan Penuh/Lengkap (Full Disclosure Principle)

Laporan keuangan harus disajikan secara lengkap karena informasi yang disajikan itu merupakan ringkasan dari transaksi yang terjadi selama satu periode dan saldo dari akun tertentu.

Bonpas Finance
Bonpas Finance Karena Mencoba Pasti Selalu Ada Kesempatan

Post a Comment