Diantara sekian banyak pakar Sosialis, pandangan Karl Heindrich Marx (1818-1883) dianggap paling berpengaruh. Dari segi teoretis, banyak pakar dan pemikir ekonomi yang mengakui bahwa argumentasi Marx sangat dalam dan luas.
Teori-teorinya tidak hanya didasarkan atas pandangan ekonomi saja, tetapi juga melibatkan moral, etika, sosial, politik, sejarah, falsafah dan sebagainya. Perkawinan Marx dengan anak seorang Baron (gelar kaum bangsawan di Jerman), memungkinkanya bergaul dengan banyak kalangan, antara lain penganut Sosialis.
Salah seorang di ataranya adalah Joseph Proundhon (1808- 1865), yang kemudian banyak memengaruhi pikiranpikiran Marx. Prounhon sangat membenci kaum Kapitalis. Hal ini dapat dilihat pada tulisan-tulisannya.
Dalam satu tulisannya ia menanyakan: “Apa yang dimaksud dengan kekayaan?” (what is property?). Pertanyaan tersebut ia jawab sendiri: “Kekayaan adalah hasil curian!” (property is theft). Kekayaan yang dimaksud Proudhon dalam tulisannya di atas adalah kekayaan yang dimiliki kaum Kapitalis.
Kekayaan tersebut pada hakikatnya merupakan hasil rampokan dari kaum buruh, yaitu dengan menggaji mereka dengan tingkat upah yang sangat rendah. Pandangan Proudhon inilah yang sesungguhnya menjadi dasar pemikiran Marx tentang Kapitalis di kemudian hari.
A. Kecaman Marx Terhadap Sistem Kapitalis
Karl Marx sangat benci dengan sistem perekonomian yang digagas oleh Adam Smith dan kawan–kawan. Untuk menunjukkan kebenciannya, Marx menggunakan berbagai argumen untuk membuktikan bahwa sistem Liberal/Kapitalis itu buruk.
Argumen-argumen yang disusun Marx dapat dilihat dari berbagai segi, baik dari sisi moral, sosiologi maupun ekonomi. Dari segi moral Marx melihat bahwa sistem Kapitalis mewarisi berbagai ketidakadilan dari dalam.
Ketidakadilan ini akhirnya akan membawa masyarakat Kapitalis ke arah kondisi ekonomi dan sosial yang tidak bisa dipertahankan. Walau ada pengakuan bahwa sistem yang didasarkan pada mekanisme pasar ini lebih efesien sistem ini tetap dikecam.
Hal itu karena sistem liberal tersebut tidak perduli tentang masalah kepincangan dan kesenjangan sosial. Dengan menerapkan sistem “upah besi” kaum buruh dalam sistem perekonomian liberal tidak akan pernah mampu mengangkat derajatnya lebih tinggi karena-sebagaimana di ucapkan Marx- “pasar bebas memang telah mentakdirkannya demikian”.
Untuk mengangkat harkat para buruh yang sangat menderita dalam sistem Liberal tersebut, Marx mengajak kaum buruh untuk bersatu. Dari segi sosiologi, Marx melihat adanya sumber konflik antar kelas.
Dalam sistem Liberal-Kapitalis yang diamati Marx ada sekelompok orang (yaitu pemilik modal) yang menguasai kapital. Di lain pihak, ada sekelompok orang lainnya (yaitu kaum buruh) sebagai kelas proletar yang seperti sudah ditakdirkan untuk selalu menduduki posisi kelas bawah.
Alasan sistem perekonomian Liberal harus diganti menurut Marx ialah jumlah kaum nestapa akan bertambah besar dan sistem Liberal cenderung menciptakan masyarakat berkelas-kelas, yaitu kelas Kapitalis yang kaya raya dan kelas proletar kaum buruh (Karim, 2017).
Dari segi ekonomi, Marx melihat bahwa akumulasi Kapital ditangan kaum Kapitalis memungkinkan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Akan tetapi, pembangunan dalam sistem Kapitalis sangat bisa terhadap pemilik modal.
Untuk bisa membangun secara nyata bagi seluruh lapisan masyarakat, perlu dilakukan perombakkan struktural melalui revolusi sosial. Jika langkah ini berhasil, langkah berikutnya yang harus diambil ialah penataan kembali hubungan produksi (khususnya dalam sistem pemilikan tanah, alat-alat produksi dan modal).
Menurut Marx, hanya atas dasar hubungan yang lebih manusiawi ini pembangunan dapat berjalan lancar tanpa hambatan dan dapat diterima oleh seluruh lapisan rakyat.
B. Teori Pertentangan Kelas
Menurut Marx, sejarah segala masyarakat yang ada hingga sekarang pada hakikatnya adalah sejarah pertentangan kelas. Di zaman kuno ada kaum bangsawan yang bebas dan budak yang terikat.
Di zaman pertengahan ada tuan tanah sebagai pemilik dan hamba sahaya yang menggarap tanah bukan kepunyaannya. Bahkan, di zaman modern ini juga ada majikan yang memiliki alat-alat produksi dan buruh yang hanya punya tenaga kerja untuk dijual kepada majikan.
Di samping itu, ada masyarakat kelas kaya (the haves) dan kelas takberpunya (the haves not) (Deliarnov, 2016). Semua kelas-kelas masyarakat ini dianggap Marx timbul sebagai hasil dari kehidupan ekonomi masyarakat.
Menurut pengamatan Marx, sepanjang sejarah kelas di seluruh dunia ini, yang lebih bawah selalu berusaha untuk membebaskan dan meningkatkan status kesejahteraan mereka. Sekarang pun di masa Marx tidak terkecuali, tetap ada perjuangan kelas.
Dengan anggapan seperti ini, Marx meramal bahwa kaum proletar yang terdiri dari kaum buruh akan bangkit melawan kesewenang-wenagan kaum pemilik modal dan akan menghancurkan kelas yang berkuasa.
Bagaimana Marx menganggap bahwa kaum proletar diisap dan diperas oleh para pemilik modal? Teori yang digunakan untuk menjelaskan penindasan tersebut adalah teori nilai lebih (theory of surplus value), yang sebenarnya berasal dari kaum klasik sendiri.
C. Teori “Surplus Value” dan Penindasan Buruh
Menurut pandangan kaum klasik yaitu Ricardo, nilai suatu barang harus sama dengan biaya-biaya untuk menghasilkan barang tersebut, yang di dalamnya sudah termasuk ongkos tenaga kerja berupa upah alami (natural wages).
Upah alami yang diterima oleh para buruh hanya cukup sekedar penyambung hidup secara subsisten, yaitu untuk memenuhi kebutuhan yang sangat pokok-pokok saja. Padahal, nilai dari hasil kerja para buruh jauh lebih besar dari jumlah yang diterima mereka sebagai upah alami.
Kelebihan nilai produktivitas kerja buruh atas upah alami inilah yang disebut Marx sebagai nilai lebih (surplus value), dinikmati oleh para pemilik modal. Semakin kecil upah alami yang dibayarkan pada kaum buruh, semakin besar nilai surplus yang dinikmati pemilik modal.
Bagi Marx ini berarti semakin besar pengisapan atau eksploitasi dari pemilik modal atas kaum buruh. Secara umum Marx percaya bahwa nilai suatu barang atau komoditas umumnya sepadan dengan inputinput labor, dan hanya labor langsung yang dapat menghasilkan laba (yang disebutnya nilai surplus) (Deliarnov, 2016). Lebih jelas, menurut Marx:
Keterangan :
C = Biaya labor tidak langsung
v = Biaya labor langsung
s = Laba atau nilai surplus
Nilai surplus adalah kelebihan nilai produktivitas kerja atas upah alami yang diberikan kepada buruh. Semakin rendah nilai upah yang diberikan kepada buruh, semakin besar nilai surplus yang dinikmati pemilik modal. Tingkat surplus ini oleh Marx dijadikan sebagai ukuran eksploitasi terhadap kaum buruh (Deliarnov, 2016).
Keterangan :
v = Biaya labor langsung
s = Laba atau nilai surplus
Dari uraian di atas, jelaslah bagaimana kaum pemilik modal memperoleh kekayaan dengan menindas kaum buruh. Sebagian dari laba yang merupakan surplus value tersebut ditanankan kembali sebagai investasi.
Dari hasil investasi ini kekayaan mereka akan semakin menumpuk, semakin lama semakin besar. Akumulasi kapital akan semakin berhasil jika para Kapitalis bisa menindas kaum buruh sekeraskerasnya, yaitu dengan memberikan tingkat upah yang sangat rendah.
Di sini tampak perbedaan yang sangat nyata antara Marx dan Smith dalam memandang persaingan. Smith menganggap persaingan bebas sebagai prasyarat bagi terbentuknya masyarakat sejahtera.
Sebaliknya, Marx memandang sebagai penyebab terjadi konsentrasikonsentrasi ekonomi atau monopoli. Kompetensi dinilai Marx mengandung suatu daya yang kalau tidak diawasi akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat.
Perusahaan-perusahaan besar akan mencaplok yang kecil. Yang lemah akan tergusur dari pasar. Akibatnya, jumlah golongan menengah menciut, sedangkan jumlah kaum proletar akan semakin banyak. Akan tetapi, dengan praktik “gencet-menggencet” seperti ini siapa sesungguhnya yang rugi?
Kaum buruh jelas rugi, sebab mereka hanya bisa memperoleh nafkah sekedar penyambung hidup belaka. Bagaimana dengan pemilik modal? Pada mulanya dengan menekan upah buruh mereka memang untung.
Akan tetapi, dengan jumlah buruh yang sangat banyak, sedangkan pendapatan mereka sangat rendah menimbulkan masalah lain. Siapa yang akan membeli barang-barang dan jasa yang dihasikan oleh pabrik-pabrik?
Karena daya beli masyarakat rendah, barabg-barang yang dihasilkan menjadi tidak laku. Pabrik-pabrik terpaksa tutup. Semua ini bukan kesalahan pihak tertentu, melainkan tingkah kaum Kapitalis sendiri. Lebih lanjut, Marx menganalisis : jika pabrik-pabrik tutup, pengangguran akan semakin merajalela, yang akan membawa kekalutan pada masyarakat.
Marx meramal akan datang suatu masa, terjadi krisis besar-besaran yang akan mengakhiri riwayat sistem Kapitalis (Karim, 2017).
D. Dialetika Materialisme Historis
Dari setiap argumen yang dilontarkan Marx, ide tentang konflik selalu ditekankan: Konflik antara ideal dan realitas, antara kapital dan labor, juga antara pertumbuhan dan stagnasi. Konflik diganti dengan harmonis atau keselarasan etis, sosial, dan ekonomi.
Proses pembangunan melalui konflik merupakan proses dialektik. Proses ini mempunyai basis dalam pembagian masyarakat atas kaum pekerja dan Kapitalis. Bagi Marx, pangkal dari semua perubahan adalah karena dilakukannya pengisapan atau eksploitasi para Kapitalis terhadap kaum buruh.
Perbedaan yang sangat mencolok antara pemilik kapital dan kaum proletariat akan membawa kearah revolusi sosial. Bagi Marx, dialetika sejarah merupakan suatu keniscayaan sesuatu yang pasti akan terjadi.
Jika kaum proletar sudah tidak tahan lagi, mereka akan melancarkan revolusi. Agar revolusi berjalan sukses, Marx menganjurkan kaum komunis mendukung setiap gerakan melawan sosial politik sistem Kapitalis.
Teori Marx tentang kejatuhan Kapitalisme untuk kemudian digantikan dengan Sosialisme/Komunisme didasarkan pada dialektika materialisme sejarah. Konsep dialetika materialisme dipelajari Marx dan filsuf Georg Wilhem Hegel dan Ludwig Feuerbach.
Berdasarkan dialetika materialisme sejarah, Marx percaya bahwa kekuatan-kekuatan ekonomi (yang disebutnya kekuatan-kekuatan produktif,productive forces) sangat menentukan hubungan-hubungan produksi, pasar, masyarakat, dan bahkan termasuk “suprastruktur (ideologi, falsafah, hukum sosial, budaya, agama, kesenian, dan sebagainya), nantinya diorganisasi.
E. Fase-Fase Perkembangan Masayarakat
Menurut Marx, semua kelompok masyarakat akan mengalami fase–fase sebagai berikut (Deliarnov, 2016) :
- Komunisme primitif ( suku ),
- Perbudakan,
- Feodalisme,
- Kapitalisme,
- Sosialisme,
- Komunisme.
Dalam masyarakat Komunisme primitif dan juga Sosialisme Komunisme, alat berproduksi merupakan milik bersama. Namun, dalam tiga kelompok masyarakat yang lain, yaitu perbudakan, feodalisme, dan Kapitalisme, alat–alat atau modal produksi dimiliki dan dikendalikan oleh suatu kelompok, sedangkan kelompok lain hanya sebagai pekerja.
Menurut Marx, perubahan dari suatu fase ke fase berikutnya yang lebih maju terjadi karena kurang atau tidak seimbangnya kemajuan dalam teknologi dengan kemajuan dalam institusi. Teknologi merupakan suatu tenaga dinamis yang sangat penting dalam sejarah umat manusia.
Teknologi menentukan kekuatan produktif suatu kelompok masyarakat. Kemajuan teknologi membawa berbagai pengubahan. Teknologi memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk merombak institusi yang bergerak lamban.
Lembaga akan diciptakan, sesuai dengan kemauan dan keinginan para perombaknya, yaitu mereka yang menguasai kekuasaan. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, Kapitalisme bagi Marx hanya jaya pada tahap awal.
Salah satu dari hasil temuan tersebut adalah teknologi yang hemat tenaga kerja (labor saving technology). Menurut Marx, produksi yang berlebih– lebihan (over- production), tingkat konsumsi rendah (under-consumption), disproporsi, dan eksploitasi serta alienasi yang dialami kaum buruh.
Beberapa program yang dianjurkan Marx untuk dilakukan setelah revolusi berhasil antara lain :
- Penghapusan hak milik atas tanah dan menggunakan semua bentuk tanah untuk tujuan-tujuan umum,
- Program pajak pendapatan progresif atau gradual,
- Penghapusan semua bentuk hak pewarisan,
- Pemusatan kredit ditangan negara,
- Pemusatan alat- alat komunikasi dan transportasi ditangan negara,
- Pengembangan pabrik- pabrik dan alat- alat produksi milik negara.
Dari berbagai program diatas yang sangat perlu diperhatikan adalah alat-alat kekayaan produktif, terutama modal dan tanah, secara berangsur - angsur harus dikuasai negara. Sementara tahap Komunisme penuh belum dicapai, fungsi negara terutama elit pimpinan partai sangat diperlukan untuk menuntun masyarakat kearah Komunisme penuh.
F. Perbedaan Sosialisme dan Komunisme Menurut Marx
Marx membedakan fase Sosialisme dengan Komunisme penuh atau lengkap. Perbedaan diantara kedua fase tersebut dapat dilihat dari :
- Produktivitas,
- Hakikat manusia sebagai produsen, dan
- Pembagian pendapatan.
Dalam fase Sosialisme, produktivitas masih rendah dan kebutuhan materi belum terpenuhi secara cukup. Fase Komunisme penuh produktivitas sudah tinggi sehingga semua kebutuhan materi diproduksi secara cukup.
Tentang pembagian atau distribusi pendapatan, dalam fase Sosialisme berlaku prinsip: “from each according to his ability, to each according to his labor”, sedangkan fase Komunisme penuh prinsipnya: “from each according to his ability, to each according to his needs” (Karim, 2017).
Pada waktu Marx menulis Manifesto Komunis, belum ada suatu negara Sosialis, apalagi negara Komunis. Pada awal abad ke-20 partai Komunis Marxis telah menjadi partai radikal penting didunia, kecuali di negara- negara Inggris dan Amerika Serikat.

.png)

Post a Comment